PeristiwaSumedang

Ibu dan Bayi Meninggal saat Proses Lahiran, Keluarga Kecewa Pelayanan RSUD Sumedang

TAHUEKSPRES, SUMEDANG – Mamay Maida (30) yang tengah berjuang melewati proses persalinan, akhirnya meninggal dunia bersama bayi yang dikandungnya di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Sumedang, Minggu (1/10/2023).

Informasi yang dihimpun Tahu Ekspres Indonesia, peristiwa tersebut terjadi sekitar pukul 13.14 WIB. Dimana, korban merupakan seorang guru Pegawai Negeri Sipil (PNS) angkatan 2020 di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Sarang Tengah.

Korban mengajar tidak jauh dari rumahnya yang tinggal di Dusun Cipeureu RT 03 RW 01 Desa Buanamekar Kecamatan Cibugeul Kabupaten Sumedang.

Sebelum meninggal dunia, anak dalam kandungan korban telah diberi nama Muhammad Jalaluddin Rumi Affandi.

Menurut perkiraan dokter/bidan, Hari Perkiraan Lahir (HPL) Mamay pada tanggal 27-28 September 2023. Bagi Mamay, bayi yang dalam kandungannya itu merupakan anak kedua, setelah sebelumnya Mamay melahirkan Azura Khaza Marzia Afandi, gadis cantik yang masih berusia 5 tahun.

Menurut suami korban, Ardiansyah Apandi (30) yang juga seorang guru (honorer) di SDN Nanjungmekar Kecamatan Rancaekek Kabupaten Bandung.

Istrinya mulai terasa mau lahiran hari Sabtu (30/9/2023) pagi, kemudian dibawa ke Puskesmas Cibugeul sekira Jam 08.00 WIB. Oleh pihak Puskesmas, Mamay disarankan untuk pergi ke dokter kandungan. “Kata bidan yang di Puskesmas itu harus ke dokter kandungan cek dulu,” terang Ardiansyah saat dikonfirmasi Tahu Ekspres, Senin (2/10/2023).

Kemudian, korban dibawa ke dr. Dani Setiawan, yang ada di Kecamatan Ganeas, menggunakan mobil pribadi dari rumahnya. “Setelah dari Puskesmas, sebelum ke dr. Dani, saya pulang dulu ke rumah untuk bersiap-siap dulu. Takutnya ada apa-apa siap-siap dulu, bawa pakaian, dan lain-lain,” kata Ardiansyah.

Baca Juga :  Dirut RSUD Sumedang Resmi Dilantik, Ini Pesan Pj Bupati Yudia Ramli

Oleh dr. Dani, korban dirujuk ke Rumah Sakit dan tiba di RSUD Sumedang sekira Jam 18.00 WIB. “Sekitar pukul 19.30 WIB masuk ke ruang bidan, jam 20.00 WIB di ruang bidan, diberi penjelasan sama bidan, harus diinduksi dulu,” kata Ardiansyah.

Mendengar harus diinduksi, Ardiansyah memohon kepada bidan kalau misalkan induksinya 10 jam tidak ada reaksi, bayinya tidak juga kunjung keluar, ia meminta tindakan yang terbaik untuk ibu dan bayinya. “Mau sesar atau mau vakum, yang penting selamat dua-duanya. Soalnya saya trauma kejadian anak pertama,” terang Ardiansyah.

Setelah malamnya diinduksi, pada pukul 9.00 WIB, Minggu (1/10/2023) pagi, korban masuk ruang bersalin. “Pagi itu saya nanya, bu, istri saya gimana? sudah masuk ruang bersalin. Ya sudah Alhamdulillah lah, masih kuat istri saya waktu itu. Masih bisa makan dan ngobrol biasa,” katanya.

Sekira jam 10.30 WIB, kata Ardiansyah, istrinya itu sudah mulai sakit-sakitan, tidak tahan. “Puncaknya itu jam 11.00 WIB lebih, karena nggak keluar lagi, harus dikasih obat induksi lagi ke 4 kali, kata saya teh jangan dikasih-kasih obat induksi, udah tindakan aja, sesar aja atau gimana yang penting kan, ada yang selamat, soalnya jam 11.00 kurang itu si Bayi itu kepalanya udah kelihatan, cuma ke dalam lagi gitu,” katanya.

Baca Juga :  RSUD Sumedang Dapatkan Alokasi DBHCHT 2024 Sebesar Rp 3,1 Miliar

“Yang saya kesal itu yang saya gak habis pikir. Jam 12.00 WIB itu kata bidan, saya disuruh tanda tangan, saya gak mau tanda tangan kalau misalkan ini gak ada tindakan,” tambahnya.

Ia meminta kepada dokter/bidan yang menangani istrinya, untuk segera dilakukan tindakan jangan nunggu lagi diinduksi karena istrinya sudah kritis dan dalam keadaan darurat.

“Katanya kalau 4 jam diinduksi bayi tidak keluar, di sesar. Kata saya jangan nunggu 4 jam, itu udah kritis banget, udah darurat gitu,” sesalnya.

Tapi menurut Ardiansyah, pihak medis yang menangani istrinya beralasan dokternya lagi ada pasien operasi dan lagi istirahat mau makan.

“Sampai Jam 12.30 WIB, belum diapa-apain. Ketika istri saya sudah gak bergerak, sudah kehabisan tenaga, baru dimasukin ke ruang operasi. Jam 12.30 kurang lebih masuk ruang operasi, udah ke sana, bulak balik doktor itu, saya juga udah pasrah disana, karena kan kelihatan istri dah gimana gitu ya,” tutur Ardiansyah.

Hingga pada akhirnya, Mamay dinyatakan meninggal sekira Jam 13.14 WIB, dengan kondisi bayi masih didalam kandungan.

“Bayi belum keluar, yang saya sangat sakit hati itu bayi belum keluar masih dalam kandungan. Nggak dikeluarin anak saya juga. saya belum tahu muka anak saya kayak gimana gitu, belum di foto,” ungkap Ardiansyah dengan nada sedih.

Jenazah istrinya, kata Ardiansyah, kemudian disuruh dibawa pulang menggunakan mobil ambulan sekira jam 14.00 WIB dan tiba di rumah duka sekira Jam 15.00 WIB lebih.

Baca Juga :  Kecelakaan Dekat Gunung Kunci Sumedang Tewaskan Seorang Pelajar

Ardiansyah pun mengaku harus membayar ambulan sejumlah Rp635.000. “Kalau rumah sakitnya gratis karena pakai BPJS,” katanya.

Atas kejadian yang menimpanya, ia pun berencana membawa kasus ini ke ranah hukum. “Kalau doktor mau minta maaf, ya saya legowo, kalau misalkan dia dalam 2 hari tidak minta maaf, saya mau ke ranah hukum tuntut, karena ini memang keteledoran rumah sakit.

Supaya tidak ada kejadian ini terulang kembali khususnya di daerah Sumedang. Cukup saya yang merasakan kepahitan kehilangan, jangan sampai ada Mamay-Mamay berikutnya,” ujar Ardiansyah.

Ia pun menjelaskan, pihak RSUD Sumedang, yang diwakili langsung oleh direkturnya sudah datang ke rumahnya sekira Jam 17.30 WIB, Senin (2/10/2023).

“Baru tadi direktur rumah sakit datang ke rumah. Baru tadi, kemarin-kemarin nggak ada. Saya mau ketemu dokter nggak ada, dokter dan bidannya nggak ada. Saya mah nggak mau damai sebelum saya ketemu semua dokter sama bidannya itu,” kata Ardiansyah.

Ia berharap, bukan direktur RSUD Sumedang yang minta maaf, tapi dokternya yang harus datang untuk meminta maaf.

Hingga berita ini dipublikasikan, Tahu Ekspres belum menerima keterangan resmi dari pihak RSUD Sumedang.

Sementara, Pj Bupati Sumedang, Herman Suryatman mengaku telah memberikan teguran keras kepada plt. Direktur RSUD Sumedang terkait peristiwa tersebut. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button