Aksi 17 Tahun Penolakan Geothermal Tampomas Sumedang, Warga Gelar Doa hingga Petisi
Sumedang – Penolakan terhadap rencana proyek panas bumi (geothermal) di kaki Gunung Tampomas kembali disuarakan. Sejumlah organisasi dan warga menggelar rangkaian kegiatan sebagai penanda 17 tahun penolakan terhadap proyek tersebut.
Kegiatan berlangsung di kawasan Wisata Cipanas Cileungsing, Desa Cilangkap, Kecamatan Buahdua, Kamis (23/4/2026). Aksi ini diikuti berbagai elemen masyarakat dan organisasi yang peduli terhadap lingkungan.
Beberapa organisasi yang terlibat di antaranya Paguyuban Nafas Tampomas (Panas), Rukun Wargi Sumedang (RWS), Maung Muda Pasundan, Ghabah, Padepokan Legok Wangi, Padepokan Tembong Agung, hingga warga yang tinggal di sekitar kaki Gunung Tampomas.
Dalam kegiatan tersebut, peserta tidak hanya menggelar doa bersama, tetapi juga diskusi lingkungan. Agenda diisi dengan Rajah Kasumedangan, paparan sejarah perjuangan penolakan, pemaparan dari sejumlah lembaga, sesi tanya jawab, hingga pembacaan petisi.
Tokoh masyarakat Desa Cilangkap, Eme, menyebut ada dua tuntutan utama yang disampaikan dalam petisi tersebut. Pertama, meminta Pemerintah Kabupaten Sumedang menghentikan rencana penawaran proyek geothermal kepada pihak pengusaha. Kedua, meminta Gubernur Jawa Barat turun langsung menemui warga.
“Petisi ini dibuat agar menjadi perhatian pemerintah sekaligus bahan pertimbangan sebelum proyek tersebut benar-benar dijalankan,” kata Eme.
Ia menjelaskan, rencana proyek geothermal di kawasan kaki Gunung Tampomas dinilai berpotensi menimbulkan dampak sosial di tengah masyarakat.
“Petisi ini kami sampaikan agar pemerintah benar-benar mempertimbangkan aspirasi masyarakat. Kami khawatir jika proyek ini tetap berjalan, akan menimbulkan perpecahan sosial serta berdampak pada kelestarian lingkungan, terutama sumber air dan hutan di sekitar Gunung Tampomas,” ujarnya.



