Nilai Luhur Warisan Prabu Siliwangi Jadi Sorotan, Ini Penuturan Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir
Sumedang – Warisan berharga dari Prabu Siliwangi berupa prinsip silih asih, silih asah, silih asuh kembali dikumandangkan dan menjadi penekanan utama dalam serangkaian kegiatan budaya yang digelar di Sumedang, belum lama ini.
Hal itu disampaikan Bupati Sumedang, H Dony Ahmad Munir pada momen doorstop, seusai upacara ritual pengembalian mahkota Binokasih oleh Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi, di halaman Keraton Sumedang Larang, Selasa 19 Mei 2026 lalu.
Nilai yang menjadi identitas masyarakat Sunda ini dipandang bukan sekadar sejarah, melainkan pedoman hidup yang relevan untuk membangun daerah menuju masa kejayaan kembali.
Dony menuturkan, pada acara kirab yang mengarak mahkota binokasih di seluruh daerah di Jawa Barat belum lama ini, merupakan kegiatan yang mengangkat nilai sejarah dan budaya, serta berlangsung sukses dengan suasana yang sangat kondusif.
“Semua berjalan aman, damai, lancar. Mayoritas masyarakat sangat menikmati proses ini dan saya yakin ini akan memberikan makna, manfaat dan dampak bagi masyarakat Jawa Barat,” ungkap Dony.
Menurutnya, ada dua dampak besar yang sudah mulai terasa dari kegiatan ini. Hal pertama yang terlihat adalah tumbuhnya kesadaran tentang sejarah di tengah masyarakat, mulai dari kalangan pelajar, pemuda, hingga orang dewasa. Kini, pemahaman mereka mengenai keberadaan dan perjalanan panjang Kerajaan Sunda semakin mendalam dan melekat di hati.
“Pertama tentang sejarah masyarakat, anak-anak sekolah, pemuda, dewasa, sekarang semakin paham berkaitan dengan Kerajaan Sunda yang telah ada. Yang kedua bagaimana nilai-nilainya bisa diinterpretasikan dalam kehidupan keseharian,” jelasnya.
Di sinilah letak pentingnya nilai luhur yang ditinggalkan Prabu Siliwangi. Bagi Dony, prinsip silih asih, silih asah, silih asuh adalah fondasi utama yang harus dihidupkan kembali dalam keseharian. Nilai inilah yang diharapkan bisa menjadi energi baru bagi warga Jawa Barat.
“Pertama nilai silih asih, silih asah, silih asuh. Itu sebuah nilai yang disampaikan oleh Prabu Siliwangi dan mudah-mudahan dengan standing nya mahkota edukasi ini memberkahi kita dan meningkatkan etos kerja orang Sunda dalam menjalankan kehidupannya dan membangun daerahnya sehingga bisa gemah ripah remping lapik loh jinawi seperti masa kejayaannya dulu,” tegasnya.
Lebih jauh, Dony berharap, pemahaman dan penerapan nilai sejarah ini tidak berhenti hanya sebagai pengetahuan semata. Ia berkeyakinan, jika semangat dan etos kerja masyarakat Sunda didasari oleh nilai-nilai luhur tersebut, maka kemakmuran dan kesejahteraan yang digambarkan sebagai gemah ripah remping lapik loh jinawi seperti di masa lalu, bukan lagi sekadar impian, melainkan kenyataan yang bisa diwujudkan bersama.







