Beranda / Sumedang / Simbiosis Mutualisme, Peternak Ini Budidaya Lebah Madu dan Ayam Kampung

Simbiosis Mutualisme, Peternak Ini Budidaya Lebah Madu dan Ayam Kampung

Sumedang – Keterampilan dan pemanfaatan potensi alam terbukti menjadi kunci keberhasilan usaha mandiri milik Tata, warga Dusun Cijeruk, Desa Cijeruk, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang. Rabu (20/05/2026).

Berawal dari sekadar mencoba membudidayakan lebah madu, ia kini berhasil memperluas usahanya hingga ke sektor peternakan unggas dan pertanian dengan menerapkan sistem sinergi alam yang menguntungkan.

Jenis lebah yang dikembangkan oleh Tata adalah Apis Cerana. Dari usaha ini, ia mendapatkan dua sumber pendapatan utama, yakni penjualan madu dan perdagangan koloni lebah. Madu hasil budidayanya dijual dengan harga seratus ribu rupiah per botol, sedangkan untuk satu kotak koloni lebah, ia membanderol harga antara tiga ratus hingga empat ratus ribu rupiah.

Dalam kurun waktu satu minggu, permintaan madu cukup tinggi dengan rata-rata penjualan mencapai 30 kilogram, yang disalurkan langsung kepada pembeli perorangan maupun pengecer.

Keunikan dan keunggulan usaha yang dibangun Tata terletak pada kreativitasnya dalam memanfaatkan seluruh hasil produksi yang ada. Berawal dari kondisi penjualan madu yang sempat menurun, ia menemukan fakta bahwa anak lebah atau yang biasa disebut odeng memiliki kandungan nutrisi yang sangat baik untuk pakan ternak. Tata pun mulai mencoba memberikannya pada unggas, khususnya ayam kampung.

Hasilnya sangat memuaskan. Pakan tambahan dari odeng tersebut terbukti mampu mempercepat pertumbuhan ayam secara signifikan. Jika biasanya ayam kampung membutuhkan waktu lama untuk siap jual, dengan pakan tambahan ini, ayam dapat dipasarkan hanya dalam waktu dua setengah hingga empat bulan saja. Kini, populasi ayam yang dibudidayakannya telah mencapai lebih dari 100 ekor.

Tidak berhenti di situ, kawasan usahanya juga ditanami berbagai jenis tanaman pendukung, di antaranya tanaman cengek, cabai, bawang, hingga bunga murbei. Keberadaan tanaman-tanaman ini berfungsi ganda, sekaligus sebagai sumber nektar alami bagi lebah dan menambah nilai ekonomi tambahan dari hasil pertanian.

Hingga saat ini, perkembangan usaha berjalan sangat lancar tanpa kendala berarti maupun gangguan hama. Tata pun memiliki harapan besar agar usahanya ini dapat terus bertumbuh.

“Awal mula itu cuma coba-coba, dicoba terus berkembang, lalu jadi penghasilan, ternaknya pun jadi bertambah. Madu odeng itu kita jual ke perorangan, ada yang menjualkan lagi. Dalam seminggu bisa terjual sekitar tiga puluh kilo. Kita juga menjual koloninya, jenisnya Apis Cerana, harga per kotaknya sekitar tiga ratus sampai empat ratus ribu rupiah,” ungkap Tata.

Ia menambahkan, konsep sinergi antar sektor menjadi kekuatan utama usahanya.

“Di sini juga ada tanaman sengek, cabe, bawang, dan bunga murbei. Intinya, kita sinergikan semuanya antara madu, ayam, dan tanaman supaya saling mendukung. Sampai sekarang, alhamdulillah tidak ada kendala. Harapan saya, usahanya ingin diperlebar lagi supaya makin berkembang,” tambahnya.*

Tag: