PeristiwaRancakalongSumedang

Kronologi Lengkap Kasus Pembegalan Santri Versi Korban, Pelaku Bawa Kabur Kitab Kuning

Seorang santri atas nama Rifki Nurzaman (22) warga Dusun Cinunuk RT 02 RW 04 Desa Mulyasari Kecamatan Sumedang Utara menjadi korban pembegalan di Jalan Sumedang-Subang, perbatasan Desa Pangadegan Rancakalong dan Desa Wargaluyu Tanjungmedar, tepatnya di kawasan hutan sepi penduduk daerah Paniisan/Cadas Gantung, Rabu (22/2).

Korban merupakan santri Kiayi Khoerudin, Pondok Pesantren Miftahul Khoer yang beralamat di Desa Cikawung Kecamatan Tanjungsiang Kabupaten Subang.

Peristiwa ini bermula saat Rifki hendak pulang dulu ke rumahnya dari pesantren untuk mengurus lamaran pekerjaan. Sebelum berangkat lagi ke pesantren, Rifki dititipkan Kitab Kuning dan juga amplop berisi uang oleh orangtua santri.

Dari rumah ke pesantren, Rifki berangkat setelah maghrib, ikut tumpangan mobil Aqua ke arah Subang, namun saat sampai di Dermaga Desa Pangadegan Kecamatan Rancakalong, Rifki turun dari mobil karena hendak buang air kecil di toilet mesjid.

Karena takut kemalaman, Rifki pun berjalan kaki melanjutkan perjalanan dan sempat bertanya di pemandian mobil kepada warga, apakah jam segini masih ada angkutan mobil umum. Karena jawabannya adalah tidak ada, Rifki pun melanjutkan perjalanan dengan cara berjalan kaki menyusuri jalanan sepi penduduk.

“Terus berjalan kaki menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba dari belakang ada pengendara motor ngabacok kena kepala bagian belakang,” kata Rifki kepada wartawan, Jum’at (24/2).

Rifki menjelaskan, saat pelaku mengambil tas yang digendongnya, pelaku kembali membacok 2 kali di bagian punggung kiri, karena saat itu tasnya nyangkut ditangan Rifki sebelah kiri.

“Pelaku sempat ngomong, kadieukeun siah anying eta kantong (berikan tasnya kepada saya),” kata Rifki menirukan pelaku saat mengambil paksa tasnya.

Karena didalam tas hanya berisi Kitab Kuning, Roti, Amplop dan Genjring/Alat Hadroh, Rifki pun merelakan tasnya diambil pelaku.

“Saya lepaskan saja tasnya karena memang tidak ada apa-apa (barang berharga),” kata Rifki.

Rifki mengaku, kejadiannya memang begitu cepat dan singkat, setelah tas diambil, pelaku langsung kabur. Kejadian setelah adzan isya, karena saat ia buang air kecil di Dermaga posisinya sudah adzan isya.

Rifki pun kembali melanjutkan perjalanan dengan kondisi tubuh yang berlumur darah.

“Setelah 7 menitan melanjutkan lagi berjalan kaki, ada mobil dolak yang lewat, sayapun ikut tumpangan sampai ke rumah terdekat dari lokasi kejadian,” ujar Rifki.

Rifki turun dirumah milik Yunus Dedi Rosidin (40), yang rumahnya berada di perbatasan Cadas Gantung Rancakalong dan Kecamatan Tanjungmedar tepatnya di Dusun Pojok RT 03 RW 04 Desa Wargaluyu Kecamatan Tangmedar Kabupaten Sumedang.

Yunus merupakan ketua RT setempat, karena melihat kondisi Rifki yang berlumuran darah, Yunus pun menawari Rifki untuk diantar ke klinik terdekat.

Namun Rifki minta diantarkan ke rumah Jajang Riki Kustiawan (40), di Kampung Babakan Picung RT 03 RW 03 Desa Wargaluyu Kecamatan Tanjungmedar Kabupaten Sumedang.

Singkat cerita, Rifki pun diantarkan oleh Yunus kepada Jajang, dan dari rumah Jajang kemudian Rifki dibawa ke klinik Herlina untuk mendapatkan perawatan.

Rifki mengaku, akibat luka yang dialaminya, harus dijait sebanyak 12 jaitan dibagian kepala belakang. Malam itu juga polisi langsung melakukan olah TKP.

“Polisi langsung olah TKP, kejadiannya masuk ke wilayah Rancakalong,” kata Rifki.

Tidak lama, malam itu juga, sekira Jam 01.00 WIB Rifki langsung pulang kerumahnya.

Dari ciri-ciri pelaku, Rifki tidak mengetahui persis, lantaran menggunakan helm dan pakai penutup wajah.

“Pelakunya satu orang, menggunakan motor bebek yang sudah ‘dipurutulan’, dan dibagian ban motornya kaya pakai rantai gitu, tidak ada lampu besar, tapi pakai lampu kecil seperti pada helm, kalau knalpot masih pakai yang ori kayanya,” kata Rifki.

Ia menjelaskan, kalau benda tajam yang digunakan pelaku diduga menggunakan golok biasa.

Saat ini kondisi Rifki tinggal bersama orang tua dirumahnya dengan kondisi masih suka pusing lantaran luka bacok yang dialaminya.

“Masih suka pusing, rencana mau kontrol entah kapan belum bisa dipastikan,” kata Rifki.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button