BudayaSejarahSumedang

Jejak Sang Mahkota: Saat Kekuasaan Pajajaran Berpindah ke Sumedang Larang

Sumedang – Mengapa tanggal 22 April dipilih sebagai Hari Jadi Kabupaten Sumedang? Jawabannya tersimpan dalam lembaran sejarah panjang yang sarat makna, membawa kita kembali ke tahun 1578 Masehi. Saat itu, bukan sekadar perpindahan tempat yang terjadi, melainkan peralihan takdir dan kekuasaan terbesar di Tanah Pasundan.

Tepat pada tanggal 22 April 1578, yang kala itu bertepatan dengan bulan suci Ramadan, sebuah peristiwa agung terjadi. Dalam catatan sejarah yang diwariskan turun-temurun, dikisahkan para senopati atau panglima perang dari Kerajaan Pajajaran diperintahkan untuk melakukan tugas mulia. Yakni, membawa Mahkota Kerajaan serta berbagai atribut kebesaran lainnya.

Mereka bergerak dalam rombongan besar menuju sebuah wilayah yang pada masa itu disebut Sunda Narang, atau yang kini kita kenal sebagai Kerajaan Sumedang Larang. Penyerahan simbol-simbol kekuasaan ini bukanlah hal biasa, melainkan sebuah mandat resmi yang menyatakan bahwa tahta dan kedaulatan kerajaan kini berpindah tempat.

Baca Juga :  Meriahkan HJS ke-448, Pemkab Sumedang Bangun Fasilitas Olahraga Gratis dan Hadirkan Hiburan untuk Warga

Kisah yang Abadi dalam Naskah Kuno itu dituturkan oleh Radya Anom Keraton Sumedang Larang, Luky Djohari Soemawilaga. Kisah heroik ini bukan sekadar dongeng, melainkan fakta sejarah yang tertulis jelas dalam sumber-sumber primer yang sangat dihargai, khususnya dalam Manuskrip Wangsirma.

Selain itu, kebenarannya juga diperkuat oleh catatan lain seperti Manuskrip Wangsakarta serta naskah cerita Parahayangan. Dari naskah-naskah tersebut kita bisa memahami situasi saat itu. Kerajaan Pajajaran tengah menghadapi tekanan dan ancaman dari berbagai arah.

Oleh karena itu, mahkota dan simbol kekuasaan diserahkan ke Sumedang Larang agar tetap aman dan lestari. Ini menjadi tanda kuat bahwa kedaulatan serta budaya luhur Sunda diteruskan oleh wilayah ini.

“Tapak tilas sejarah ini diambil dari momen penyerahan mahkota tersebut yang menjadi simbol penting dalam sejarah berdirinya wilayah ini. Inilah dasar yang menjadikan tanggal 22 April ditetapkan sebagai hari jadi Sumedang,” tuturnya kepada Tahuekspres belum lama ini.

Baca Juga :  PPS Sumedang Ditata Jadi Ruang Publik Terbuka dan Representatif

Mahkota Binokasih, Bukti Nyata Simbol Kejayaan

Hingga hari ini, bukti nyata dari peristiwa bersejarah itu masih terjaga dengan baik, yaitu Mahkota Binokasih. Mahkota inilah yang konon dibawa oleh para senopati lebih dari empat abad yang lalu. Keberadaannya menjadi saksi bisu bahwa Sumedang adalah pewaris sah dari kejayaan masa lalu.

Perjalanan sejarah ini mengajarkan kita bahwa Sumedang bukan lahir secara kebetulan. Wilayah ini tumbuh dari akar yang dalam, sebagai tempat di mana takdir kerajaan Sunda diteruskan. Maka, setiap peringatan Hari Jadi bukan hanya sekadar pesta rakyat, melainkan momen untuk mengenang, menghormati, dan mencintai warisan leluhur yang begitu berharga.

Kirab Mahkota Binokasih kali ini, tahun 2026, dijadwalkan akan berlangsung pada 2 Mei dan menjadi puncak rangkaian Milangkala Tatar Sunda serta Hari Jadi Sumedang ke-448.

Baca Juga :  Wali Santri Somasi Kampung Quran di Cimanggung Buntut Penutupan Pesantren

Kirab ikonik ini melibatkan penyerahan panji dan mahkota dari Keraton Sumedang Larang menuju Pendopo Kabupaten Sumedang, serta dihadiri Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, untuk menghormati leluhur.

Pada hari Sabtu, 2 Mei 2026, pukul 19.30 WIB mendatang, para peserta kirab akan berangkat dari Keraton Sumedang Larang. Dimulai dari kirab panji pada 1 Mei 2026 dari Darmaraja menuju Tegal Kalong.

Event ini berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Barat, disinergikan dalam peringatan Milangkala Tatar Sunda dan Hari Jadi Sumedang (HJS) ke-448. Dengan makna pelestarian adat dan simbol sejarah Kerajaan Sunda/Sumedang Larang.

Kirab akan bergerak dari Sumedang, kemudian ke Ciamis (3-4 Mei), berlanjut ke Bogor, dan berakhir di Bandung.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
PETIR800 LOGIN PETIR800