Sumedang – Pedagang di Pasar Cimalaka, Kabupaten Sumedang, memastikan akan tetap bertahan dan berjaga di area pasar usai sempat terjadi kericuhan saat penolakan sementara proses revitalisasi, Senin (6/7/2026). Mereka mengaku khawatir pengosongan pasar tetap dilakukan sehingga memilih bermalam secara bergantian.
Salah seorang pedagang sayuran, Beben Supriatna, mengatakan para pedagang sepakat berjaga hingga situasi benar-benar kondusif.
“Kita akan gantian berjaga tidak akan pulang sampai Pasar kosong. Kalau terkait rekan-rekan yang terluka, saya sebenarnya kurang tahu persis. Saya juga tidak bisa memastikan, tetapi sangat menyayangkan hal seperti ini bisa terjadi,” kata Beben saat diwawancarai Tahu Ekspres.
Menurutnya, sebelum kericuhan terjadi, pihak pedagang melalui Ketua IKWAPACI telah meminta agar proses pengosongan pasar ditunda selama satu minggu.
“Memang, ini sangat disayangkan. Pada dasarnya, sebelum kejadian ini sudah ada upaya dari Ketua IKWAPACI yang memohon agar proses ini ditunda atau disimpan dulu selama satu minggu,” ujarnya.
Namun, kata Beben, bentrokan justru terjadi setelah para pedagang datang ke lokasi dan mendengar pernyataan terkait rencana tersebut.
“Namun, setelah kami datang ke sini dan mendengar pernyataan tersebut, justru kemudian terjadi bentrokan di lokasi,” ucapnya.
Ia berharap peristiwa serupa tidak kembali terulang. Menurutnya, para pedagang hanya menginginkan adanya dialog untuk mencari solusi bersama.
“Hal seperti ini seharusnya tidak terjadi dan jangan sampai terulang lagi. Kami sebagai para pedagang menginginkan musyawarah hingga mencapai mufakat. Jangan sampai ada pernyataan atau tindakan yang bersifat memaksakan,” tuturnya.
“Jangan sampai hanya mengatakan, ‘Pokoknya harus keluar, harus dikosongkan’. Kan tidak bisa begitu. Itu yang kami harapkan,” lanjutnya.
Di tempat yang sama, hal senada disampaikan salah seorang pedagang ayam, Ria Safitri. Ia mengaku bersama pedagang lainnya akan tetap siaga di pasar karena khawatir penggusuran dilakukan secara mendadak.
“Iya, kami akan tetap siaga di sini. Takutnya nanti tiba-tiba alat berat seperti beko masuk dan dilakukan penggusuran,” katanya.
Ria menegaskan para pedagang bukan menolak relokasi, tetapi menginginkan adanya musyawarah terlebih dahulu sebelum keputusan diambil.
“Bukan menolak relokasi, tetapi kami menginginkan adanya musyawarah untuk mencapai mufakat terlebih dahulu. Bagaimana baiknya, jangan seperti ini caranya,” ujarnya.
Ia juga mengungkapkan anaknya menjadi korban dugaan penganiayaan saat kericuhan berlangsung dan telah mendapatkan perawatan medis.
“Apalagi sekarang anak saya menjadi korban dugaan penganiayaan. Saat ini dia sudah dilarikan ke Rumah Sakit Cimalaka,” pungkasnya.

