Sumedang – Petani penggarap lahan Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) di Desa Bugel, Kecamatan Tomo, Kabupaten Sumedang mengeluhkan serangan babi hutan yang kerap merusak tanaman perkebunan mereka. Hama tersebut datang pada malam hari, terutama saat hujan turun, dan merusak tanaman pisang yang mendominasi lahan garapan.
Salah seorang petani, Awan, mengungkapkan kerusakan tanaman di kebunnya sudah sering terjadi. Menurutnya, bukan hanya pisang yang menjadi sasaran, tetapi juga singkong dan kacang tanah.
“Wah, sering sekali kalau babi hutan turun. Pisang digali, apalagi yang masih kecil. Kadang yang sudah besar juga didongkel sampai roboh. Apalagi kalau ke singkong atau kacang tanah, rusak jelas,” ujar Awan saat ditemui di lokasi, Selasa (17/2/2026).
Awan menjelaskan, babi hutan biasanya masuk ke lahan pada malam hari. Saat kondisi hujan, serangan disebutnya semakin sering terjadi. Akibatnya, tanaman yang sudah ditanam dan dirawat berbulan-bulan rusak sebelum sempat dipanen.
Untuk mengurangi kerusakan, Awan mengaku telah memasang pagar keliling di areal garapannya menggunakan kawat dan bambu. Namun, upaya tersebut belum sepenuhnya efektif.
“Sekarang saya coba pasang pagar keliling pakai kawat sama bambu. Ya, agak mendingan, tapi kadang ada saja yang masih lolos,” keluhnya.
Serangan babi hutan tersebut membuat para penggarap merasa khawatir untuk memperluas area tanam. Padahal, menurut Awan, lahan tersebut memiliki potensi produktivitas yang cukup baik.
“Ya, kita jadi khawatir, ragu mau nanam banyak atau lebih luas. Karena babinya selalu bikin rusak. Padahal di sini juga bisa ditanami padi, pepaya california. Saya sudah coba, kalau tidak diserang babi, hasilnya cukup bagus,” katanya.
Keluhan serupa juga disampaikan petani lain yang menggarap lahan di areal yang sama. Ia mengaku pernah kehilangan seluruh tanaman pisang di satu kavling garapannya akibat serangan babi hutan.
“Sama saja. Apalagi saya pernah nanam pisang penuh satu kavling garapan saya. Habis, tidak ada sisa, tidak kebagian panen. Cuma ya gimana lagi, mungkin coba lagi lebih aman, bisa pakai pagar atau cari tanaman yang tidak dirusak, seperti mangga mungkin,” tuturnya.
Para penggarap yang tergabung dalam Kelompok Tani Gentra Sabilulungan hingga kini belum menemukan cara yang dinilai efektif untuk mencegah serangan babi hutan. Mereka masih mengandalkan pemagaran mandiri di lahan masing-masing.
“Ya, kita cuma upaya melakukan pemagaran. Semoga ada bantuan dari pihak mana saja untuk kesejahteraan kami sebagai petani. Tapi kami tetap semangat untuk terus bercocok tanam. Hama itu rintangan yang harus kita taklukkan,” pungkas Awan.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak terkait mengenai langkah penanganan serangan hama babi hutan di wilayah tersebut.
Penulis : Suharman SH







