Sumedang – Di balik gemerlap dunia hiburan malam, terdapat kisah perempuan-perempuan yang berupaya memenuhi kebutuhan ekonomi dengan berbagai pilihan pekerjaan. Bagi sebagian warga Sumedang, bekerja sebagai ladies companion (LC) di luar daerah dinilai menawarkan penghasilan yang lebih besar dibandingkan di kampung halaman.
Salah seorang mantan ladies companion (LC) yang sempat berkiprah di Sumedang dan merupakan warga asal Sumedang berinisial I (24), mengaku faktor pendapatan menjadi salah satu alasan banyak pekerja memilih mencari peluang di luar daerah.
“Sebulan bisa dapet enam digit kalo disini (diluar Sumedang), di Sumedang paling tiga digit,” ujar I yang tidak mau disebutkan namanya saat diwawancarai Tahu Ekspres, Selasa (2/6/2026).
Meski demikian, menurutnya, besarnya pendapatan tidak selalu berbanding lurus dengan kenyamanan bekerja. Ia menilai terdapat perbedaan suasana dan aturan kerja yang diterapkan di setiap daerah.
“Kalo nyari uang enak disini lah, tapi gak nyaman kalo disini, terus kalo di Sumedang mah terus kan sampe jam 12 malam jam operasional nya, kalo disini sampe jam 2,” katanya.
Pengakuan tersebut menggambarkan realitas yang dihadapi sebagian perempuan muda yang memilih bekerja di sektor hiburan malam. Selain mempertimbangkan besaran pendapatan, mereka juga dihadapkan pada berbagai konsekuensi sosial dan lingkungan kerja yang berbeda-beda.
Menanggapi kondisi tersebut, Sekretaris Satpol PP Kabupaten Sumedang, Deni Hanapiah, mengingatkan para pengelola tempat hiburan agar menjalankan usahanya sesuai aturan yang berlaku serta memperhatikan aspek sosial dalam pengelolaan tenaga kerja.
Menurut Deni, pengelola tempat hiburan memiliki tanggung jawab untuk memastikan pekerja menjalankan aktivitas sesuai ketentuan yang telah ditetapkan, termasuk terkait jam operasional dan norma yang berlaku di masyarakat.
“Ya saya mengimbau lah kepada pengelola-pengelola hiburan ya, kalau mau memperkerjakan perempuan ya itu tadilah, pertama, patuhi jam kerja, jam apa, jam operasionalnya, kedua, berilah himbauan kepada mereka untuk istilahnya jangan mengenakan pakaian-pakaian yang katakanlah mengundang perhatian untuk berbuat asusila dan sebagainya gitu,” ujar Deni.
Ia menegaskan bahwa kepatuhan terhadap aturan operasional menjadi bagian penting dalam menjaga ketertiban umum sekaligus menciptakan lingkungan usaha yang kondusif.
Di sisi lain, kisah yang disampaikan I menunjukkan bahwa persoalan pekerja hiburan malam tidak hanya berkaitan dengan penegakan aturan. Faktor ekonomi dan kebutuhan hidup juga menjadi alasan yang mendorong sebagian perempuan mencari peluang kerja yang dianggap mampu memberikan penghasilan lebih besar.
Fenomena tersebut menjadi potret dilema yang dihadapi sebagian perempuan asal Sumedang, berada di antara tuntutan ekonomi, kenyamanan bekerja, dan norma sosial yang berlaku di tengah masyarakat.







