Kesehatan

Anggota DPR RI Sebut Pola Asuh Salah Bisa Sebabkan Stunting

Anggota Komisi IX Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) dari Fraksi Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra), Putih Sari, menyebutkan, salah satu faktor yang bisa menyebabkan stunting adalah pola asuh yang salah. Hal itu ia sampaikan saat menjadi pembicara pada kegiatan Promosi KIE Percepatan Penurunan Stunting bersama Badan Kependudukan dan keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Barat di Desa Bantar Jaya, Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, Jumat (13/10).

“Penyebab stunting tidak hanya masalah ekonomi keluarga. Stunting juga disebabkan kurangnya perhatian dari orang tua dan pola asuh yang salah,” katanya seperti pada rilis yang diterima Tahu Ekspres.

Ia menjelaskan, stunting merupakan kondisi gagal pertumbuhan pada anak, baik pertumbuhan tubuh maupun otak sebagai akibat kekurangan asupan gizi dalam waktu lama. Sehingga anak lebih pendek dari anak normal seusianya dan memiliki keterlambatan dalam berpikir.

“Nah, untuk menekan angka stunting masyarakat perlu memahami faktor-faktor apa saja yang menyebabkan stunting,” ujarnya.

Selain kekurangan gizi dan kesalahan pola asuh, menurutnya, penyebab stunting karena tidak menerapkan program KB di keluarga. Pasalnya, dengan tidak ber-KB, angka kelahiran anak di keluarga tidak bisa direncanakan.

“Kehamilan yang terlalu dekat dan tidak terencana berdampak pada terganggunya kesehatan ibu dan pola asuh tidak maksimal. Jadi, mungkin saja anaknya jadi stunting,” kata Putih Sari.

Untuk mewujudkan generasi berkualitas, katanya, harus membuat perencanaan keluarga, salah satunya perencanaan memiliki anak.

Ia menyarankan untuk menghindari 4T, Terlalu banyak, Terlalu sering, Terlalu muda, dan Terlalu tua saat melahirkan.

“Terlalu sering bisa mengakibatkan kurangnya perhatian dan pengasuhan. Kakak yang masih membutuhkan pengasuhan dan kasih sayang otomatis berkurang ketika hadirnya sang adik. Pada umumnya, perhatian lebih tercurah kepada sang adik,” tambah Putih.

Ia berharap, Pemerintah Kabupaten Bekasi bisa melakukan berbagai upaya pencegahan dan percepatan penurunan stunting agar bisa lebih maksimal. Alasannya, Kabupaten Bekasi merupakan salah satu kabupaten di Indonesia yang kasus stuntingnya terbanyak.

“Untuk menekan angka stunting di Kabupaten Bekasi, perlu upaya pencegahan agar program percepatan penurunan stunting lebih maksimal,” ujarnya.

Putih Sari mengajak keluarga di Kabupaten Bekasi untuk secara aktif mencegah kelahiran bayi stunting. Caranya dengan mengkonsumsi makanan bergizi, baik bagi ibu hamil maupun anak di bawah dua tahun (Baduta).

“Presiden sudah meminta semua pihak berperan aktif dalam percepatan penurunan stunting. Salah satunya BKKBN. Targetnya bisa 14 persen pada 2024 mendatang. Kalau bisa zero stunting. Mari bersama-sama mencegah lahirnya bayi stunting. Ibu hamil harus mengkonsumsi makanan bergizi, jangan makanan-makanan tidak sehat,” terangnya.

Dia mengingatkan, penduduk Indonesia sudah banyak. Bahkan urutan keempat terbanyak di dunia. Penduduk banyak itu bagus jika berkualitas. Namun, jumlah yang besar hanya akan menjadi beban jika tidak berkualitas. Karena itu, upaya pencegahan stunting merupakan salah satu cara mewujudkan penduduk berkualitas.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button