Sumedang – Panitia kurban di Dusun Cimuruy, Desa Mekarmulya, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang, menghadirkan cara unik sekaligus ramah lingkungan dalam pembagian daging kurban pada Iduladha 1447 Hijriah. Mereka menggunakan rinjing atau wadah anyaman bambu sebagai kemasan daging kurban untuk masyarakat.
Penggunaan rinjing tersebut menjadi yang pertama kali dilakukan di Dusun Cimuruy. Langkah itu dilakukan untuk mengurangi penggunaan kantong plastik sekali pakai yang berpotensi menambah volume sampah lingkungan.
Selain ramah lingkungan, penggunaan rinjing juga menjadi bentuk dukungan terhadap pelaku UMKM dan pengrajin anyaman bambu di lingkungan sekitar.
Ketua DKM Masjid At-Taqwa Dusun Cimuruy, Ato Radianto mengatakan, penggunaan rinjing dipilih karena memiliki manfaat ekonomi sekaligus membantu menjaga kelestarian lingkungan.
“Kami sengaja menggunakan rinjing untuk pembagian daging kurban agar mengurangi penggunaan plastik. Selain itu, rinjing ini dibuat oleh warga sekitar sehingga secara tidak langsung bisa membantu perekonomian masyarakat dan mendukung UMKM lokal,” kata Ato kepada wartawan, Rabu (27/5/2026).
Menurutnya, keputusan menggunakan wadah tradisional tersebut juga dipengaruhi oleh naiknya harga plastik di pasaran dalam beberapa waktu terakhir.
Rinjing yang digunakan merupakan hasil produksi warga Dusun Cimuruy dan sekitarnya. Menjelang Iduladha, permintaan rinjing pun meningkat sehingga memberikan tambahan penghasilan bagi para perajin lokal.
Ato menambahkan, penggunaan rinjing juga menjadi bagian dari upaya melestarikan budaya lokal yang selama ini lekat dengan kehidupan masyarakat Sumedang, khususnya di Dusun Cimuruy.
“Rinjing ini merupakan produk khas masyarakat kita. Kami ingin tradisi ini tetap terjaga dan terus digunakan dalam kegiatan-kegiatan kemasyarakatan,” ujarnya.
Inovasi tersebut mendapat respons positif dari warga penerima daging kurban. Selain dinilai lebih praktis dan alami, penggunaan rinjing juga memberikan kesan unik dalam proses distribusi daging kurban.
Salah seorang warga penerima daging kurban, Herni (50), mengaku senang dengan penggunaan wadah anyaman bambu tersebut.
“Bagus sekali karena lebih ramah lingkungan dan terlihat lebih tradisional. Selain menerima daging kurban, kami juga ikut mendukung hasil karya warga sendiri,” ucap Herni.
Melalui inovasi itu, panitia kurban dan pengurus DKM Masjid At-Taqwa berharap kesadaran masyarakat terhadap pengurangan sampah plastik semakin meningkat. Selain itu, penggunaan produk lokal buatan warga diharapkan terus berkembang dan memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar.







