Sejarah

Mudik Lewat Cadas Pangeran Sumedang? Cek Kisah dibalik Keberadaannya

Sebelum adanya jalan tol Cisumdawu, Cadas Pangeran merupan jalan yang harus dilalui oleh Pemudik dari arah Bandung untuk sampai ke pusat Kota dan pusat Pemerintahan Sumedang.

Cadas Pangeran memang sudah sangat Ikonik dan memberikan beragam kisah bagi Sumedang. Menurut beberapa literasi sejarah, jalan ini mulai dibangun pada tahun 1808 oleh pemerintah kolonial Belanda dibawah Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels.

Nama Cadas Pangeran diambil dari nama Bupati Kabupaten Sumedang tahun 1791-1828, Pangeran Kusumadinata IX atau lebih dikenal dengan nama Pangeran Kornel.

Pangeran Kornel merupakan sosok yang berani menghadapi Gubernur Jenderal Herman Willem Daendel. Pramoedya Ananta Toer dalam buku berjudul Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, disebutkan dalam pembuatan jalan Cadas Pangeran untuk pertama kali muncul  jumlah korban yang meninggal kisaran 5000 orang.

“Setidak-tidaknya ini adalah genosida tidak langsung demi pembangunan, demi kelangsungan penjajahan dan kebesaran, kekayaan dan kemajuan Eropa,” tulis Pramoedya.

Maka dalam rangka mengenang proses pembuatan jalan di cadas pangeran dibuatlah prasasti di bagian bawah jalan Cadas Pangeran yang dibuat oleh oleh mantan bupati Sumedang Suphan Iskandar pada 26 Nopember 1972.

Saat Kongres Pemuda Sunda (KPS) yang dihelat pada tahun 1956 menjadi saksi bagaimana masyarakat Sumedang sangat menganggap Pangeran Kornel sebagai Pahlawan. Sehingga untusan dari Sumedang mengusulkan Pangeran Kornel agar diajukan kepada pemerintah pusat untuk diangkat menjadi pahlawan nasional atau pahlawan Jawa Barat.

Utusan Jawa Barat berasalasan, kisah keberanian Pangeran Kornel untuk menjabat tangan Daendels yang terkenal bengis dengan tangan kiri dengan  posisi tangan kanannya memegang hulu keris merupakan salah satu aksi heroik yang layak untuk diganjar gelar Pahlawan

“Untuk mengenang keberaniannya, bukit cadas itu kemudian dikenal dengan nama Cadas Pangeran,” tulis Ayatrihaedi, ahli sejarah dan sastra Sunda dalam memoar yang dibuatnya, 65=67 Catatan Acak-acakan dan Catatan Apa Adanya.

Akan tetapi usulan itu ditolak oleh utusan lainnya. Pada akhirnya KPS memutuskan untuk mengajukan tiga orang sebagai Pahlawan Nasional. Ketiganya merupakan orang Sunda yaitu Ki Tapa, Otto Iskandardinata, dan Dewi Sartika.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button