Sumedang — Pengelolaan sampah di Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, telah berjalan sejak lama. Rumah Kompos Desa Sukajaya bahkan sudah berdiri sejak tahun 2021, berawal dari program Pemkab Sumedang yang mendorong pemilahan sampah organik untuk diolah menjadi pupuk. Namun, seiring meningkatnya volume sampah yang membludak hampir dua kali lipat, pengelolaan yang masih mengandalkan tenaga dan pemilahan sederhana mulai menghadapi kendala serius.
Ketua Gerakan Peduli Sampah (GPS), Eka Ahmad Nugraha, menjelaskan sistem pengelolaan yang berjalan saat ini masih bersifat sederhana. Memilah sampah organik dan anorganik, sementara sampah yang tidak bernilai dibakar. Setidaknya, langkah ini telah memutus kebiasaan membuang sampah sembarangan.
“Sistem pengolahan sampah kita belum terlalu modern, masih sekadar pemilahan. Tapi setidaknya, rantai membuang sampah sembarangan sudah kita putus,” ujar Eka kepada TahuEkspres.com belum lama ini.
Kendala utama di lapangan, tambah Eka, masih pada kesadaran warga yang belum sepenuhnya memilah sampah sejak dari rumah. Sampah basah dan kering masih sering menyatu. Selain itu, sarana transportasi dan pendukung pengolahan juga belum memadai. Meski begitu, sekitar 75 persen warga kini sudah mulai mengikuti program pengelolaan sampah.
Rumah Kompos Desa Sukajaya sempat memproduksi pupuk organik secara rutin pada 2023–2024. Namun, lonjakan volume sampah mencapai hampir 100 persen membuat pengolahan pupuk tidak lagi mampu mengimbangi jumlah sampah yang masuk.
Saat ini, pengelolaan sampah melayani tidak hanya warga Desa Sukajaya, melainkan tujuh perumahan, tempat usaha seperti restoran dan kafe, termasuk program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta dua sekolah (negeri dan swasta). Total sampah yang masuk mencapai 9–10 ton per minggu. Sekitar 25–30 persen dari jumlah tersebut masih harus dibuang ke Tempat Pembuangan Sementara (TPS) karena belum mampu diolah lebih lanjut.
Ketua Karang Taruna Kecamatan Sumedang Selatan, Iyan Riyana Machyar, mengapresiasi semangat pemuda Desa Sukajaya yang sejak 2018 berjuang membangun sistem pengelolaan sampah melalui program Gerakan Peduli Sampah. Kini, pengelolaan yang awalnya berbasis desa mulai berkembang menjadi cakupan satu kecamatan. Namun, kesadaran warga yang terus meningkat harus dibarengi penyediaan sarana dan prasarana yang memadai agar sampah tidak kembali menumpuk.
“Ketika masyarakat sudah sadar memilah sampah, pemerintah harus bersiap menyediakan sarana dan prasarana yang memadai. Kalau tidak difasilitasi, sampah akan menumpuk kembali,” tegas Iyan.
Sementara itu, Kepala Desa Sukajaya, Sukana, menyampaikan pihaknya berencana menerapkan konsep ekonomi sirkuler dalam pengelolaan sampah ke depan, yaitu mengurangi limbah, memperpanjang siklus guna pakai, serta mendaur ulang sampah agar bernilai guna maksimal. Harapannya, pengelolaan sampah tidak hanya mencakup Desa Sukajaya, melainkan mampu melayani kebutuhan pengelolaan sampah se-Kecamatan Sumedang Selatan.
Namun, lagi-lagi ambisi tersebut terkendala keterbatasan sarana dan prasarana. Pemerintah Desa Sukajaya kini sedang memperjuangkan dukungan fasilitas dari Pemerintah Provinsi maupun Pemerintah Pusat agar pengelolaan sampah dapat ditingkatkan kapasitasnya dan mewujudkan konsep ekonomi sirkuler yang lebih luas.
“Kami mengakui dukungan sarana masih sangat terbatas. Kami sedang memperjuangkan agar mendapat dukungan fasilitas yang bisa menaikkan level pengelolaan ini,” ungkap Sukana.







