Tak Kuat Kerja Bareng TKA China, 19 Pekerja Asal Sumedang Terlantar di Maluku, Ingin Pulang Tapi Tak Punya Ongkos
Maluku – Sebanyak 19 pekerja bangunan asal Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, terlantar di Desa Buli Asal, Kecamatan Maba, Kabupaten Halmahera Timur, Maluku Utara, setelah memilih berhenti bekerja di proyek pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik. Mereka mengaku kecewa lantaran pekerjaan dan gaji yang diterima tidak sesuai dengan janji awal saat direkrut.
AA Supriatna (39), salah seorang pekerja asal Lingkungan Ciguling RT 03 RW 09 Kelurahan Pasanggrahan Baru, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, mengatakan awalnya mereka ditawari pekerjaan bangunan di Kalimantan dengan upah Rp 200 ribu per hari.
Namun setelah berangkat pada 18 April 2026, rombongan pekerja justru diarahkan ke Maluku Utara untuk bekerja di proyek pembangunan pabrik baterai kendaraan listrik.
“Awalnya dijanjikan kerja di Kalimantan bikin mess pekerja. Tapi di perjalanan malah dibawa ke Maluku untuk kerja di proyek pabrik baterai mobil listrik. Kami juga baru tahu setelah sampai lokasi,” kata AA saat dihubungi, Kamis (7/5/2026).
Menurut AA, total terdapat 22 pekerja dalam rombongan tersebut. Sebanyak 19 orang berasal dari Sumedang, sementara sisanya berasal dari Serang, Majalengka dan Rancaekek. Bahkan mandor yang membawa mereka juga disebut ikut menjadi korban.
Mereka tiba di lokasi pada 23 April 2026 dan mulai bekerja sekitar 27 hingga 28 April 2026. Sesampainya di lokasi, para pekerja mengaku harus membantu pekerja asing asal China dalam pembangunan struktur dan pengecoran lantai bangunan pabrik.
“Kerjanya berat, bukan jadi tukang seperti yang dijanjikan. Kami hanya bantu pekerja China bangun pabrik. Rasanya seperti kerja rodi,” ujarnya.
AA mengungkapkan, upah yang awalnya dijanjikan Rp 200 ribu per hari berubah menjadi Rp 180 ribu kotor. Nilai itu pun masih dipotong biaya alat pelindung diri (APD), makan hingga mess apabila target pekerjaan tidak tercapai.
“Kalau dihitung-hitung paling bersih sebulan cuma Rp 2 juta sampai Rp 2,5 juta. Itu juga kami belum pernah menerima gaji sama sekali sejak mulai kerja,” ungkapnya.
Karena merasa tidak kuat dengan kondisi pekerjaan dan upah yang diterima, para pekerja akhirnya memilih berhenti bekerja sekitar lima hari lalu. Saat ini mereka ditampung di rumah kepala desa setempat.
“Kami sekarang tinggal di rumah kepala desa. Dikasih tempat tidur dan makan seadanya. Kepala desa juga bantu nyari pekerjaan supaya kami bisa dapat ongkos pulang,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, para pekerja mengaku harus meminta bantuan uang dari keluarga di kampung halaman. Hingga kini, biaya konsumsi seluruh pekerja disebut sudah menghabiskan sekitar Rp 3 juta.
AA menuturkan, proyek tersebut mempekerjakan sekitar 300 hingga 500 pekerja dan mayoritas merupakan tenaga kerja asing asal China.
Ia mengaku percaya ikut berangkat karena sebelumnya sang mandor pernah bekerja sama dengan perekrut berinisial L dalam proyek di Kalimantan dan seluruh hak pekerja saat itu terpenuhi dengan baik.
“Dulu sang mandor pernah kerja sama dan semuanya sesuai, makanya percaya lagi. Tapi sekarang malah tidak sesuai sama sekali. Tidak ada kontrak kerja juga, hanya modal percaya,” tuturnya.
Menurut AA, lokasi rumah kepala desa dengan tempat proyek berjarak sekitar satu jam perjalanan menggunakan mobil. Jika ditempuh dengan berjalan kaki, perjalanan bisa mencapai enam jam.
Kini para pekerja berharap ada bantuan dari pemerintah daerah maupun pihak terkait agar mereka bisa dipulangkan ke daerah asalnya di Sumedang.