Sumedang – Joki berkuda Nana Suryana mengungkapkan bahwa cita-cita utamanya adalah kembali meraih gelar juara Indonesian Derby.
Setelah sempat meraihnya di Solo beberapa tahun lalu. Saat ini, Ia siap bertanding dengan tiga kuda yang akan dihadapkannya pada ajang bergengsi tersebut.
Nana menjelaskan mengenai pentingnya membangun chemistry antara joki dan kuda sebelum pertandingan. Menurutnya, menunggangi kuda pacu tidak bisa langsung memasang jok tanpa adanya perkenalan terlebih dahulu.
Minimal satu minggu sebelum balap, Ia melakukan pertemuan dan latihan untuk mengenali karakter kuda, seperti keinginan kuda saat dinaiki dan responsnya terhadap alat bantu seperti cambuk.
“Setiap kuda berbeda, ada yang menyukai disemangati dengan cambuk, ada juga yang tidak. Jadi perlu perkenalan untuk mengenali karakter kuda,” ujarnya kepada Tahu Ekspres, Senin (16/3/2026).
Soal Triple Crown di Indonesia, Nana menjelaskan bahwa gelar ini diperoleh jika kuda menang tiga kali berturut-turut pada ajang derby. Namun, pencapaian ini sangat jarang terjadi, sebab selain perlu proses panjang, juga diperlukan konsistensi.
“Sulit memang, namun bukan berarti tidak bisa diusahakan. Karena pada dasarnya, latihan atau perlakuan terhadap kuda selama masa tumbuh kembangnya menuju usia derby, yakni 3tahun pas.”katanya.
Menurutnya, selain latihan yang konsisten, makanan dan vitamin yang tepat dapat membantu, bahkan mempercepat pertumbuhan ke arah yang diinginkan pelatih.
“Ada dokter khusus yang biasa menangani prihal kesehatan kuda, seperti jika terdapat masalah pada gigi, kaki dan bagian tubuh lainya.” ujarnya.
Melihat kompleksitas tersebut, perawatan serta perkembangan kuda dilakukan oleh tim. Selain pelatih dan joki, kesuksesan kuda juga tidak terlepas dari peran perawat atau (groomer).
Sementara pemenang derby yang sempat meraih gelar triple crown ialah King Argentin yang pernah meraih prestasi tersebut bersama joki Johan Manik, yang hingga kini masih aktif di Koloma.
Nana juga menyebut Celeng Manis, anak dari pasangan Longwar JR dan Queen Angel, yang sama-sama berasal dari Manglayang, namun kini ada di Suramadu Stable bersamanya.
Menurutnya, kuda-kuda legendaris tersebut merupakan kuda juara yang namanya sempat meningkatkan harkat dan derajat orang-orang disekitarnya.*







