Kirab Mahkota Binokasih Puncak Rangkaian Milangkala Tatar Sunda, Digelar 8–9 Mei 2026
Sumedang – Kirab Mahkota Binokasih menjadi salah satu agenda utama dalam rangkaian peringatan Milangkala Tatar Sunda yang akan diselenggarakan pada 8 hingga 9 Mei 2026 mendatang. Kegiatan yang melintasi sejumlah daerah di Jawa Barat ini dimulai dari Kabupaten Sumedang, kemudian dilanjutkan ke Ciamis, Bogor, dan berakhir di Bandung.
Peringatan ini dijadikan momentum untuk menghidupkan kembali nilai-nilai luhur budaya, yang diharapkan dapat menjadi pondasi utama dalam upaya pembangunan daerah dan provinsi.
Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat atas kepercayaan dan dukungan yang diberikan dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Dony menegaskan, pelaksanaannya bertepatan dengan peringatan Hari Tatar Sunda sekaligus Hari Jadi Kabupaten Sumedang, sehingga menjadikannya momen penting untuk memperkuat identitas budaya masyarakat setempat.
“Milangkala Tatar Sunda akan dimulai di Kabupaten Sumedang pada 8–9 Mei. Ini merupakan kegiatan yang menjadi wujud sinergi yang baik antara Pemerintah Provinsi Jawa Barat dan Pemerintah Kabupaten Sumedang,” ujar Bupati Dony saat ditemui di lingkungan keraton, Minggu (26/4/2026) sore.
Bupati Sumedang menjelaskan, Kirab Mahkota Binokasih memiliki makna dan nilai sejarah yang mendalam. Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan semakin memahami dan menyadari bahwa wilayah Jawa Barat pernah menjadi pusat peradaban, dengan berdirinya Kerajaan Padjadjaran dan Kerajaan Sumedang Larang yang memiliki peran besar dalam perjalanan bangsa.
“Kegiatan ini mengukuhkan pemahaman bahwa di wilayah Jawa Barat pernah ada Kerajaan Padjadjaran, dan khususnya di Sumedang pernah berdiri Kerajaan Sumedang Larang,” Katanya.
Mahkota Binokasih yang kini tersimpan dengan baik di Keraton Sumedang Larang, menurutnya, merupakan anugerah sekaligus lambang kebesaran kerajaan. Secara makna, nama Binokasih diartikan sebagai “Sumber Kasih Sayang”, sebuah nilai luhur yang senantiasa dijunjung tinggi dan dijadikan pedoman dalam kehidupan bermasyarakat.
Selain itu, pelaksanaan kegiatan ini juga merupakan bentuk nyata dari upaya pelestarian warisan budaya dan menjadi sarana edukasi sejarah bagi seluruh lapisan masyarakat.
Menurut Dony, pengetahuan dan pemahaman tentang perjalanan masa lalu sangat penting, karena dapat menjadi bahan refleksi dan pedoman dalam menentukan langkah serta arah pembangunan di masa yang akan datang.
“Peringatan hari jadi atau peristiwa bersejarah bukan sekadar seremoni belaka. Ia menjadi cermin sejarah, yang seharusnya dapat berperan sebagai kompas dan pedoman bagi kita dalam menjalani kehidupan dan membangun masa depan yang lebih baik,” pungkasnya.







