Puskesmas Tanjungkerta Jemput Balita Bermasalah Gizi Lewat Inovasi Jebol Gizi

SUMEDANG — Puskesmas Tanjungkerta, Kabupaten Sumedang, menjalankan inovasi Jebol Gizi (Jemput Bola Balita Bermasalah Gizi) sejak Januari 2026. Program ini menyasar balita yang mengalami masalah gizi, termasuk stunting, gizi kurang, dan gizi buruk yang membutuhkan pemeriksaan serta penanganan lanjutan.

Inovasi ini dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya balita bermasalah gizi yang tidak mendapatkan pemeriksaan lanjutan secara optimal. Selain karena sebagian keluarga belum memahami dampak serius masalah gizi terhadap tumbuh kembang anak, kondisi geografis wilayah dan keterbatasan akses transportasi juga menjadi kendala. Banyak keluarga kesulitan membawa balitanya ke fasilitas kesehatan karena jarak yang jauh, keterbatasan kendaraan, maupun keterbatasan biaya transportasi.

Kepala Puskesmas Tanjungkerta, Abu Bakar Sidik, mengatakan petugas tidak hanya menunggu keluarga datang ke fasilitas kesehatan. Melalui inovasi Jebol Gizi, petugas bersama kader secara aktif mendatangi rumah balita yang teridentifikasi mengalami masalah gizi .untuk memberikan pendampingan rujukan dan memastikan anak memperoleh layanan kesehatan sampai ke Rumah Sakit rujukan.

“Melalui Inovasi Jebol Gizi, balita bermasalah gizi (stunting) kami dampingi mulai dari rumah, pemeriksaan di puskesmas, hingga rujukan ke rumah sakit apabila membutuhkan penanganan dokter spesialis anak,” kata Abu Bakar.

Pemegang Program Gizi Puskesmas Tanjungkerta, Vita Restiyasari, menjelaskan bahwa balita yang teridentifikasi mengalami masalah stunting akan dijemput atau difasilitasi untuk mendapatkan pemeriksaan lanjutan di puskesmas kemudian di dampingi sampai RS. Di puskesmas, balita menjalani evaluasi status gizi, pengukuran berat badan dan tinggi badan, pemeriksaan antropometri, pemeriksaan dokter, serta konseling kepada orang tua. Apabila diperlukan pemeriksaan dan penanganan lebih lanjut, balita akan difasilitasi atau diantarkan ke rumah sakit rujukan untuk mendapatkan pelayanan dokter spesialis anak.

“Sebelum inovasi ini berjalan, masih terdapat balita yang tidak memperoleh penanganan lanjutan karena kendala akses maupun anggapan bahwa masalah gizi bukan kondisi yang memerlukan perhatian khusus. Saat ini kami melakukan pemantauan dan tindak lanjut secara aktif berdasarkan hasil pemeriksaan,” ujar Vita.

Dalam pelaksanaannya, petugas turut mendampingi balita ke fasilitas kesehatan rujukan, termasuk mengantar menggunakan ambulans puskesmas apabila diperlukan. Setelah pemeriksaan oleh dokter spesialis anak, hasil pemeriksaan dan rekomendasi terapi diterima oleh puskesmas untuk ditindaklanjuti melalui pemantauan dan pendampingan berkelanjutan.

Ibu Amel dari Desa Boros mengaku terbantu dengan adanya program tersebut. “Kami merasa tidak sendirian dalam menangani masalah gizi anak. Dengan adanya pendampingan dari puskesmas, kami lebih mudah mendapatkan pelayanan yang dibutuhkan,” katanya.

Hal senada disampaikan Ibu D.S. dari Desa Tanjungmulya. Ia berharap pendampingan seperti ini dapat terus dilaksanakan sehingga tidak ada lagi balita yang terlambat mendapatkan penanganan akibat keterbatasan akses. Melalui inovasi Jebol Gizi, Puskesmas Tanjungkerta berupaya menjembatani berbagai hambatan yang dihadapi masyarakat, sehingga setiap balita bermasalah gizi memiliki kesempatan yang sama untuk memperoleh layanan kesehatan yang cepat, tepat, dan berkelanjutan.