EkonomiSumedang

Harga Kacang Kedelai Meroket, Omzet Pedagang Anjlok

Sumedang – Harga kedelai impor di Kabupaten Sumedang mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Kenaikan harga ini mencapai 15 hingga 20 persen, yang berdampak langsung pada penurunan omzet para distributor hingga produksi pengrajin tahu dan tempe.

Berdasarkan data yang dihimpun TahuEkspres.com, harga kedelai yang sebelumnya dijual seharga Rp9.000 per kilogram, kini tembus hingga Rp11.000 per kilogramnya. Kondisi ini dirasakan oleh salah satu distributor besar, Alam Sari Kedelai yang berlokasi di Jalan Prabu Gajah Agung, Kecamatan Sumedang Utara, pada Selasa (07/04/2026).

Baca Juga :  Wabup Fajar : Kunci Keberhasilan Tata Kelola Ada pada MCSP

Menurut pemilik gudang, Santi Sukmawati, kenaikan harga yang cukup ekstrem ini mulai terasa jelas pasca lebaran. Padahal, biasanya kenaikan harga hanya terjadi sedikit menjelang hari raya.

“Biasa kita menjual di sembilan ribu, sekarang sudah tembus di sebelas ribu. Kenaikannya hampir dua ribu rupiah. Biasanya kan kalau mau lebaran paling naik sekitar lima ratus, ini kan beda jauh,” ujar Santi kepada awak media, Selasa (7/4/2026).

Dampak dari kenaikan harga bahan baku ini sangat terasa pada daya beli konsumen. Penjualan yang biasanya bisa mencapai 10 ton per hari, kini hanya mampu terjual sekitar 5 hingga 8 ton saja atau turun sekitar 5 hingga 10 persen.

Baca Juga :  Pemda Sumedang Pastikan Pemantauan Komprehensif di Kawasan Rawan Longsor Cisoka

Para pembeli yang mayoritas adalah pengusaha kuliner dan pengrajin mengeluhkan biaya produksi yang membengkak. Tidak hanya kedelai, harga bahan pendukung lainnya juga ikut naik.

“Penurunan penjualan paling lima sampai sepuluh persen. Konsumen kan keluhannya ada, produksinya menurun karena bahan baku semuanya naik. Mulai dari kedelai, minyak, sampai plastik kemasan semuanya mahal,” tambahnya.

Baca Juga :  Bupati Sumedang Dony Ahmad Bersilaturahmi Bareng Sumedang Walkers Di Halal Bi Halal

Gudang Alam Sari sendiri memasok kebutuhan kedelai hingga ke berbagai wilayah seperti Majalengka, Cirebon, Kuningan, Bogor, hingga Subang. Meski stok dinilai masih aman, namun kondisi harga yang tinggi ini menjadi tantangan tersendiri.

Santi berharap situasi ini tidak berlangsung lama. Ia berharap harga bisa kembali normal sehingga roda ekonomi bisa berjalan lancar kembali dan tidak membebani konsumen di tingkat akhir.*

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button
PETIR800 LOGIN PETIR800