Panen Tabela KSP dan Luncurkan “Beas Pare Anyar”, HKTI Sumedang Perkuat Ketahanan Pangan
Sumedang – Dewan Pimpinan Cabang Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (DPC HKTI) Kabupaten Sumedang menegaskan komitmennya memperkuat ketahanan pangan daerah melalui panen padi demplot metode Tabela KSP (Kang Surahman Pare) diambil dari nama founder Balitbang ketahanan pangan Mandiri yang berkantor di Cilembu, sekaligus peluncuran beras premium “Beas Pare Anyar” di Sawah Lega, Desa Cipanas, Kecamatan Tanjungkerta, Sabtu (23/5/2026).
Panen pada lahan seluas 7.000 meter persegi itu merupakan demplot kedua yang diprakarsai DPC HKTI Kabupaten Sumedang bersama Balitbang Ketahanan Pangan Mandiri, dengan pelaksana PAC HKTI Kecamatan Tanjungkerta.
Kegiatan tersebut dihadiri jajaran pengurus DPC HKTI Kabupaten Sumedang dan Komandan Koramil Tanjungkerta.
Ketua DPC HKTI Kabupaten Sumedang, Dudi Supardi, mengatakan inovasi pertanian yang dilakukan HKTI merupakan bagian dari ikhtiar membangun ketahanan pangan berbasis teknologi tepat guna dan kemandirian petani lokal.
“Ketahanan pangan tidak cukup hanya bicara luas tanam, tetapi juga bagaimana produktivitas meningkat dan petani punya nilai tambah dari hasil panennya. Ini yang sedang kami bangun melalui demplot Tabela KSP dan koperasi petani,” kata Dudi saat diwawancarai Tahu Ekspres Selasa (26/5/2026).
Ia menjelaskan, hasil panen demplot menunjukkan produktivitas rata-rata mencapai 7,4 ton per hektare atau meningkat sekitar 3,4 ton dibanding kondisi normal yang rata-rata hanya 4 ton per hektare.
“Untuk sampling kami memakai metode dapuran. Setiap sampling terdiri dari 101 dapuran yang mewakili 1/1000 hektare, sehingga setiap satu kilogram hasil sampling setara satu ton per hektare,” ujarnya.
Dari tiga titik sampling yang diambil, hasilnya masing-masing 7,4 kilogram, 7,1 kilogram, dan 7,9 kilogram, sehingga diperoleh rata-rata 7,46 kilogram atau setara 7,4 ton per hektare.
Menurut Dudi, capaian tersebut cukup menggembirakan di tengah kondisi hasil panen petani yang umumnya mengalami penurunan hampir 50 persen akibat tingginya curah hujan dan serangan hama tikus. Bahkan, beberapa petak sawah di sekitar lokasi dilaporkan mengalami gagal panen.
Ia menyebut salah satu faktor yang diduga menjadi penopang keberhasilan demplot ialah penggunaan pestisida organik berbahan dasar jengkol, bawang putih, dan urine kelinci.
“Demplot ini tidak terserang tikus, sementara lahan di sekitarnya banyak yang terdampak. Ini menunjukkan pendekatan organik yang kami lakukan cukup efektif,” jelasnya.
Selain panen, HKTI Sumedang melalui Koperasi Raharja Bersama Sumedang juga merilis beras premium “Beas Pare Anyar” yang berasal dari hasil panen anggota.
Produk beras kemasan 5 kilogram itu akan dipasarkan sebagai bagian dari strategi hilirisasi pertanian untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di Kabupaten Sumedang.







