KesehatanSumedangSumedang Selatan

Penanganan Stunting di Sumedang Mengemuka, Jandri Ginting: Jangan Fokus ke Data tapi Solusi

TAHUEKSPRES, SUMEDANG – Penanganan kasus Stunting atau gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis serta infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya berada di bawah standar gencar dilaksanakan hingga ke tingkat Kelurahan dan Desa di Kabupaten Sumedang.

Seperti halnya Pemerintah Kelurahan Cipameungpeuk Sumedang Selatan terus berupaya agar kasus stunting dapat menurun setiap tahunnya meskipun ada beberapa kendala yang harus dihadapi.

“Jumlah stunting di Kelurahan Cipameungpeuk sedikitnya ada 55 orang,” ujar Lurah Cipameungpeuk, Yayat Sukarya kepada Tahu Ekspres Indonesia di Sumedang Jawa Barat (Jabar), Rabu (8/2/2023).

Menurut Yayat, pada tahun 2022 saja pihaknya berupaya melakukan edukasi terhadap orangtua. Mengingat, stunting ini terjadi dari adanya faktor pola asuh yang kurang baik selain pemberian makanan yang dinilai kurang bergizi dan kurang protein.

“Namun demikian, untuk penanganannya sendiri berbeda antara kelurahan dan desa. Kalau di kelurahan tidak ada anggaran untuk Pemberian Makanan Tambahan (PMT) sedangkan di desa ada,” katanya.

Baca Juga :  Mahasiswa Sastra Inggris Unsap Memukau dalam Unjuk Kabisa Mojang dan Jajaka Kabupaten Sumedang 2024

Karena itu, sambung Lurah, kemarin pihaknya diundang Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Sumedang, dimana rencananya BAZNAS akan memberikan bantuan PMT untuk 7 kelurahan di Sumedaang.

“Iya, Baznas mau membantu. Hal ini juga merupakan upaya kolaborasi penanganan stunting. Kemarin baru diminta data, mudah-mudahan realisasinya di bulan Februari 2023 ini.

Bahkan, rencananya mau satu bulan dulu percobaan untuk proteinnya. Mengingat, kebanyakan anak-anak pagi-pagi sudah jajan apa saja. Jadi untuk makan saja susah, terutama bagi anak-anak diatas 2 tahun,” ucapnya.

Selain itu, imbuh Yayat, pihaknya terus memberikan edukasi terhadap orangtua, agar sebelum jajan yang aneh-aneh harus diberikan makan. Terlebih, asupan proteinnya juga harus protein hewani, seperti ikan, telur dan daging ayam.

Selain itu, kata Yayat, pola asuh anak pun dinilai bisa menjadi pemicu terjadinya stunting. Dimana saat orang tuanya bekerja anak tersebut dititip sama neneknya.

Baca Juga :  Tanpa Mahar, Desk Pilkada DPC PKB Sumedang Mulai Buka Pendaftaran Bakal Cabup dan Cawabup

Sehingga, pihaknya terus melakukan edukasi bersama bidan setiap ada kegiatan di Posyandu.

Kendati demikian, kata Yayat, terjadinya stunting dari faktor keturunan dinilai tidak terlalu signifikan selama asupan proteinnya bagus.

“Mudah-mudahan jumlah stunting dikelurahan Cipamengpeuk dapat terus menurun, meskipun jumlah terakhir pada Agustus 2022 sebanyak 55 orang.

Ya, mudah-mudahan di Februari 2023 ini setelah dilaksanakan penimbangan menunjukan adanya penurunan angka stunting dari sebelumnya,” tukas Lurah Cipameungpeuk, Yayat Sukarya.

Sementara itu, Ketua Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBH NU) Kabupaten Sumedang, Jandri Ginting SH. MM. MH., menyampaikan, bahwa beberapa waktu lalu ada survei Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Tahun 2022 oleh Kemenkes RI yang menyebutkan bahwa kasus stunting di Kabupaten Sumedang tertinggi di Jabar.

“Saya rasa ini sangat rasional bila dihubungkan dengan apa yang menjadi kebutuhan masyarakat tadi, khususnya yang terdampak stunting itu sendiri. Buktinya mereka mengajukan Proposal permohonan bantuan kepada saya. Mereka ini membutuhkan uluran tangan kita untuk meringankan beban hidupnya,” kata Jandri.

Baca Juga :  Ini Alasan Pemkab Sumedang Berlakukan Sertifikasi Self Declare bagi Pedagang Makanan di Lingkungan Sekolah

Jandri menuturkan, dari sejumlah angka stunting di Kelurahan Cipameungpeuk tersebut ada yang sudah memiliki BPJS, namun ada juga yang belum memiliki BPJS.

“Jadi, ketika mereka mau berobat ke rumah sakit, mungkin karena tidak tercover oleh BPJS mereka tidak punya biaya untuk berobat ke rumah sakit.

Penanganan ini yang kita butuhkan, bukan penurunan angka dampak dari stunting itu sendiri.

Kalau bermain data, siapapun bisa, anak kecil juga bisa bermain data. Yang penting laporan kepada pimpinan datanya berkurang.

Permasalahannya dampak dari stunting itu sendiri, apa solusi yang sudah kita perbuat,” tukas Jandri Ginting yang juga Wakil Ketua Dewan Pengurus Cabang Partai Kebangkitan Bangsa (DPC PKB) Kabupaten Sumedang. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button