Politik

Komunitas Sarasa Sumedang Ajak Anak Muda Santuy dan Santun Sikapi Suasana Pemilu 

TAHUEKSPRES, SUMEDANG – Komunitas Sarasa Kabupaten Sumedang mengadakan diskusi bertajuk Kopi Darat (Kopdar) Solidaritas dengan Anak Muda Sumedang dalam menyikapi perkembangan perpolitikan jelang Pemilu 2024. Bertempat di Prime Cafe Sumedang, kegiatan yang berlangsung pada Minggu (14/01/2023) pagi berlangsung lancar dengan dihadiri tidak kurang dari 100 anak muda Sumedang.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Ridwan, mengatakan bahwa acara ini diadakan guna merangkul pemilih pemula terutama Gen Z, supaya lebih cerdas dalam menentukan pilihan politiknya di TPS pada 14 Februari 2024 mendatang.

“Karena Gen Z itu adalah salah satu perwakilan yang suaranya itu diharapkan bisa memenuhi harapan bagi masyarakat. Gen Z ini sendiri adalah salah satu tonggak peradaban bagi kedepannya untuk masa depan Indonesia,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Ridwan berpesan kepada anak muda supaya tidak “baper” terbawa suasana politik yang terkadang terlihat panas antar pendukung peserta pemilu “Seperti tagline nya politik itu jangan terlalu dibawa ke ranah yang kaku, jadi pemilih yang santuy saja, santuy namun santun,” pesan Ridwan.

Adapun dalam acara ini, Pemateri diisi oleh Mamay Siti Maemunah Suhandi yang mengingatkan kepada anak muda untuk menggunakan hak pilihnya secara cerdas.

“Berperan aktif dalam proses tahapan pemilu dan menyampaikan hak suaranya pada tanggal 14 Pebruari 2024. Selain itu generasi muda juga harus bisa menciptakan iklim positif dalam pemilu,” sambung Mamay.

Mamay membeberkan, pemilih millenial dan zillenial merupakan pemilih yg mendominasi dalam Pemilu 2024 dengan persentase lebih dari 56% dari total jumlah DPT (Daftar Pemilih Tetap). “Artinya suara generasi muda ini harus bisa terwakilkan oleh para peserta Pemilu,”

Kepada peserta Mamay pun berpesan supaya menjadi anak muda yang cerdas, aktif, dan selektif dalam menerima berbagai informasi berkaitan dengan Pemilu 2024.

“Bisa memilah memilih berita tidak mengeluarkan hate speech atau ujaran kebencian saling menjatuhkan antara dukungan kepada paslon tertentu atau pada peserta pemilu yang lain. Jadi mereka harus bisa merepresentasikan generasi milenial yang mampu cerdas memilih dan juga mereka memiliki etika moral dalam politik,” pesannya.

Ia pun berharap apapun hasil dari proses demokrasi ini tidak menjadikan polarisasi atau pecah belah dalam masyarakat dan  tidak terlalu membawa hal ini ke ranah yang terlalu jauh.

“papun hasilnya, masyarakat terutama generasi muda harus mampu menerima. Generasi muda harus serius dalam berdemokrasi, namun tidak baperan dan tetap mengikuti tahapan demi tahapan pemilu dengan suka cita, saling menghargai perbedaan dan fokus kepada gagasan dan ide yang ditawarkan para peserta pemilu, untuk masa depan Indonesia yg lebih baik,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button