Sosial

IWO Sumedang Santuni Mak Ajah, Jurnalis Dituntut Lebih Peka Terhadap Lingkungan Sekitar

TAHUEKSPRES, SUMEDANG – Organisasi profesi Ikatan Wartawan Online (IWO) Kabupaten Sumedang salurkan bantuan kepada Mak Ajah, seorang wanita lanjut usia (lansia) yang sebelumnya viral di beritakan telah ditelantarkan anak-anaknya.

Bantuan tersebut disalurkan langsung oleh Ketua IWO Sumedang Maman Koswara di kediaman Mak Ajah yang beralamat di Dusun Pamarisen RT 03 RW 01, Desa Mekarjaya, Kabupaten Sumedang Jawa Barat (Jabar), Selasa (8/11/2022).

Maman Koswara yang kerap disapa Mako mengatakan, jika salah satu tugas dari seorang jurnalis adalah harus memiliki kepekaan terhadap lingkungan di sekitarnya.

“Karena jurnalis juga merupakan salah satu pekerja sosial. Selain menjalankan fungsi kontrol, jurnalis juga harus memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi,” ujarnya.

Baca Juga :  TPAKD Kabupaten Sumedang Matangkan Program Unggulan Tahun 2023

Tak hanya itu, Mako juga menerangkan jika pengumpulan bantuan tersebut diinisiasi oleh salah satu Dewan Pembina IWO Sumedang H Nana Mulyana.

“Alhamdulillah ini salah satu bentuk kepedulian kami dari wartawan online yang bertugas di Sumedang. Saya haturkan terima kasih kepada dewan pembina dan rekan-rekan yang turut memberikan partisipasinya untuk tugas kemanusiaan ini,” ujarnya.

Mako menerangkan, kepekaan terhadap penderitaan sesama manusia merupakan ciri khas humanisme. Kultur humanisme tersebut, meminjam refleksi Sindhunata yang merupakan bagian dari kultur memoriapassionis yang dikembangkan oleh seorang teolog Jerman, JB Metz.

Baca Juga :  Wabup Erwan Apresiasi Peringatan HUT ke-2 Gerai Hokkima Cimalaka

Dia menyebutkan bahwa memoria passionis mencakup kultur anamensis, yakni kultur yang mengingat dan membuat manusia peka akan penderitaan sesama (Sindhunata, 2001, 17).

“Karena itulah, maka humanisme selalu bersifat sosial. Dan humanisme selalu erat terkait dengan solidaritas terhadap sesama juga semesta. Perpaduan antara humanisme sosial dan kultur anamensis akan melahirkan cita-cita dan pengharapan untuk membela masyarakat yang tertindas, menderita, dan dilupakan,” paparnya.

Oleh sebab itu, lanjut Mako, jika membela kemanusiaan dengan spirit humanisme yang demikian, membuat jurnalis selalu terbuka dalam mencari inspirasi baru dan tidak terjebak pada sikap borjuis.

Baca Juga :  Imbas Kasus Gangguan Gagal Ginjal Pada Anak, Forkopimcam Cibugel Awasi Sejumlah Apotek dan Toko Obat

Bahkan, tantangan dalam membela kemanusiaan melalui karya jurnalisme, saat ini dinilai semakin besar. Khususnya pada era global yang ditandai teknologi digital.

“Selain itu, menjaga muruah membela kemanusiaan dalam karya jurnalisme menjadi perjuangan siapa saja yang berkomitmen membangun kehidupan manusia melalui media massa, apa pun bentuknya,” ungkapnya.

“Dan di sinilah, kita akan mendapat contoh dan warisan inspiratif yang terus bisa dikembangkan dalam jurnalisme kemanusiaan,” tandas Ketua IWO Kabupaten Sumedang, Maman Koswara. (*)

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button