KesehatanPemerintahanSumedang

Bupati Sumedang Paparkan Penanganan Stunting Terintegrasi Melalui Platform Digital ‘Simpati’

TAHUEKSPRES, SUMEDANG – Berbagai langkah adaptasi dan intervensi penanganan stunting terintegrasi telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sumedang dan memberikan hasil positif sebagaimana terlihat pada data penurunan stunting sampai tahun 2021, baik itu berupa data hasil survei Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas), Studi Status Gizi Indonesia (SSGI), Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI), Baseline Program BISA), maupun data periodik surveilan gizi melalui kegiatan Bulan Penimbangan Balita setiap Februari dan Agustus (sensus).

Namun demikian, apabila melihat data hasil survei SSGI tahun 2022 yang difasilitasi Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kementerian Kesehatan, menunjukan adanya kenaikan yang tidak wajar.

“Setelah kami komfirmasi ke BKPK, dijelaskan bahwa hasil survei SSGI tahun 2022 tersebut bukan raport atas kinerja intervensi stunting Pemerintah Daerah, tetapi merupakan baseline untuk menetapkan strategi makro intervensi pada tahun 2023.

Berdasarkan hasil SSGI tahun 2022, angka wasting Kabupaten Sumedang menurun dan merupakan salah satu yang terendah di Provinsi Jawa Barat (Jabar). Hal tersebut tentunya menunjukkan keberhasilan upaya pencegahan gizi buruk di Kabupaten Sumedang,” ujar Sekretaris Daerah (Sekda) Herman Suryatman kepada. wartawan di Command Center Pusat Pemerintahan Sumedang (PPS), Senin (6/2/2023).

Menurut Sekda, survei SSGI di Kabupaten Sumedang dilaksanakan pada 579 rumah tangga, 633 balita, 25 kecamatan, dan 66 desa. Proporsi umur balita sampel SSGI sebagian besar adalah balita berumur 24-59 bulan atau sekitar 76,31 persen.

Balita berumur 0-23 bulan, yang notabene menunjukan prioritas 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), justru hanya 23,69 persen. Populasi yang diukur dilakukan dengan metode stratified 2 stage sampling yang diambil random dari blok sensus, bukan sampling purposif per kelompok usia.

Baca Juga :  Pj Bupati: Dua Jembatan Dampak Banjir dan Gempa di Sumedang Tahun Ini Diperbaiki

“Nah, menyikapi hasil survei SSGI dimaksud, walaupun hasilnya tidak wajar, Pemda Kabupaten Sumedang menghargainya sebagai umpan balik untuk perbaikan. Pemda Kabupaten Sumedang sendiri sudah melakukan pengukuran ulang pada Rumah Tangga Sampel (RTS) yang mempunyai Balita terhadap 633 Balita sasaran SSGI yang dilakukan oleh Nutrisonis Puskesmas dibantu oleh Petugas Lainnya.

Diperoleh data Stunted 136 orang dari 633 Balita atau 21,48 persen. Dilihat dari hasil validasi tersebut, Kabupaten Sumedang mengalami penurunan 0,56 persen dibanding hasil survei SSGI tahun 2021 sebesar 22 persen,” tuturnya.

Kemudian, sambung Sekda, BKPK memberikan penegasan bahwa, pemerintah daerah adalah pihak yang paling memahami bagaimana situasi dan kondisi permasalahan, serta bagaimana penanganan stunting dimplementasikan, termasuk dalam pengukuran data.

Jika daerah sudah mempunyai coverage data dan mekanisme pengukuran yang baik dan terstandar untuk seluruh lokus pengukuran, seperti acuan yaitu SSGI, maka daerah bisa memanfaatkan data elektronik-Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat (e-PPGBM) atau hasil Bulan Penimbangan Balita untuk melakukan evaluasi penurunan stunting.

“Dan Kabupaten Sumedang saat ini termasuk daerah yang sudah mempunyai coverage data dan mekanisme pengukuran yang baik dan terstandar,” terangnya.

Karena itu pula, sambung Sekda, dalam melakukan evaluasi dan menentukan strategi penurunan stunting, Pemkab Sumedang merujuk pada data e-PPGBM yang terintegrasi dengan platform SIMPATI by name by adress, bahwa angka stunting Kabupaten Sumedang tahun 2022 adalah 8,27 persen.

Baca Juga :  Pj Bupati Apresiasi UIN Sunan Gunung Djati Akan Bangun Kampus di Sumedang

“Data ini kami pandang valid dan akuntabel karena berdasarkan coverage pengukuran mencapai 97 persen, serta dilakukan melalui mekanisme pengukuran yang terstandar berdasarkan 5 standar yakni pengukur, alat ukur, SOP pengukuran, pelaksanaan pengukuran, dan validasi data,” ucapnya.

Selain itu, kata Sekda, penurunan stunting pada kelompok usia Balita Dibawah Dua Tahun (Baduta) di Kabupaten Sumedang, yang menunjukan upaya penyelamatan 1000 HPK (0 – 23 bulan) untuk mencegah stunting cukup optimal. Baik terhadap keluarga-keluarga berisiko stunting maupun pada remaja.

“Kelompok ini mendapatkan akses intervensi yang lebih baik dibanding kelompok usia setelah periode 1000 HPK (24-59 bulan). Capaian tahun 2022, untuk kelompok umur 0-6 bulan sebesar 2,8 persen, 7-11 bulan sebesar 3,1 persen, serta 12- 23 bulan sebesar 18,8 persen. Jadi kalau dirata-ratakan, untuk kelompok umur 0-23 bulan sebesar 8,23 persen,” tuturnya.

Di kesempatan itu, Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir menerangkan, bahwa pelaksanaan 8 Aksi Konvergensi Stunting di Kabupaten Sumedang relatif teruji, serta mendapatkan pengakuan dan penghargaan dari Pemprov Jabar dan Pemerintah Pusat tiga tahun berturut-turut (based on evidence).

“Upaya manajerial 8 aksi konvergensi stunting tersebut dilaksanakan terhadap seluruh Desa/Kelurahan oleh Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten, Kecamatan dan Desa. Aktualisasi teknisnya dilakukan melalui intervensi spesifik maupun intervensi sensitif oleh lintas pemangku kepentingan.

Baca Juga :  Pj Bupati Sumedang Minta Camat dan Kades Optimalkan Tangani Kemiskinan Ekstrem

Jadi sangat wajar apabila angka stunting Kabupaten Sumedang tahun 2022 mengalami penurunan, sebagaimana data e-PPGBM di atas,” ucapnya.

Menurut Bupati, untuk penanganan stunting terintegrasi di Kabupaten Sumedang yang terstruktur, sistemik dan saintifik, dibantu oleh platform digital SIMPATI (Sistem Informasi Penanganan Stunting Terintegrasi) sebagai bagian dari implementasi Sistem Pemerintahan Berbasis Elektronik (SPBE).

“Dengan platform digital SIMPATI, tersaji data stunting yang lengkap baik di tingkat Posyandu, Desa, Kecamatan, maupun Kabupaten secara realtime. Sehingga memudahkan eksekutif mengambil keputusan dalam menetapkan prioritas kebijakan intervensi dan lokus penurunan stunting secara good data, good decission, dan good result,” paparnya.

Sebagai tindak lanjut, imbuh Bupati, upaya penurunan stunting di Kabupaten Sumedang pada Tahun 2023 akan dilaksanakan secara komprehensif dengan memobilisasi dan mengorkestrasi segenap pemangku kepentingan dan sumber daya seperti Forkopimda, SKPD, Kecamatan, Fokopimcam, Pemerintah Desa, Babinsa dan Babinkamtibmas, PKK, Pendamping, Kader Posyandu, Kelembagaan Desa lainnya, Tim Pemdamping, Dunia Usaha, serta Masyarakat.

“Kejadian weight faltering atau berat badan yang turun, tetap, hingga tidak naik akan segera diintervensi dengan pemberian makanan tambahan kaya protein hewani, disertai dengan pola asuh, serta intervensi spesifik serta sensitif lainnya sesuai dengan kondisi objektif di lapangan.

Ditambah pemanfaatan platform digital SIMPATI sebagai alat untuk memetakan dan menganalisis data, serta menentukan rekomendasi penanganan stunting yang tepat, akan terus dioptimalkan,” pungkas Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Back to top button