Sumedang – Pemerintah Kabupaten Sumedang menggelar forum diskusi tingkat regional yang menghadirkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pakar ekonomi, Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Humanity Initiative, hingga perwakilan dari Bank Jabar.
Kegiatan ini bertujuan mengumpulkan ide, gagasan, konsep, dan rekomendasi untuk mempercepat pengembangan kawasan ekonomi Rebana, yang meliputi Sumedang bersama 26 kabupaten/kota lain seperti Majalengka, Subang, Indramayu, Kuningan, Cirebon, dan Kota Cirebon.
Bupati Sumedang Dony Ahmad Munir menjelaskan, bahwa potensi kawasan ini dinilai besar untuk menarik investasi, mengurangi ketimpangan ekonomi, serta membuka lapangan kerja secara luas.
“Jika banyak lapangan kerja terbuka, pendapatan masyarakat Sumedang akan meningkat dan pada akhirnya berujung pada kesejahteraan warga,” ujarnya saat diwawancarai di Aula Tampomas Pusat Pemerintahan Sumedang, Selasa (23/06/2026) siang.
Menurut Dony, pihak pemerintah daerah telah menyiapkan empat langkah utama, yakni tata kelola dan perizinan yang mudah. Melalui Mall Pelayanan Publik sistem satu atap, proses perizinan berjalan cepat, transparan, dan bisa diakses lewat aplikasi resmi.
Kemudian kesiapan tenaga kerja. Balai Latihan Kerja terus melatih warga agar keahlian yang dimiliki sesuai kebutuhan dunia usaha. Yang ke-3 Insentif fiskal. Pengurangan pajak dan kemudahan lain sudah diatur dalam Peraturan Bupati. Dan yang terakhir iklim usaha kondusif. Pemerintah mengoordinasikan seluruh pihak agar menjadi tuan rumah yang mendukung bagi para investor.
Dony mengklaim telah melihat hasilnya, investasi masuk naik dari Rp3,6 triliun menjadi sekitar Rp5,7 triliun, sementara pertumbuhan ekonomi melonjak dari 4,05 persen menjadi 5,48 persen. Tingkat pengangguran terbuka pun turun menjadi sekitar 6 persen, disertai peningkatan Indeks Pembangunan Manusia.
Rebana Siap Jadi Lokomotif Ekonomi, Dorong Ekspor dan Ekonomi Digital
Kepala Pelaksana Badan Pengelola Kawasan Rebana, Helmy Yahya, menambahkan bahwa pertumbuhan ekonomi harus didorong lebih jauh lagi lewat peningkatan nilai ekspor. Menurutnya, keberhasilan ekspor sangat bergantung pada ketersediaan investasi.
“Kita sudah bagus, tapi yang lebih penting lagi adalah ekspor agar nilainya lebih besar daripada impor. Untuk itu kita butuh investasi, itulah tantangan kita,” ujarnya.
Helmy menjelaskan kawasan Rebana memiliki lahan seluas 42.009 hektar yang bisa dikembangkan menjadi kawasan industri. Di tengah perkembangan ekonomi digital global, Rebana dinilai sangat cocok menjadi lokasi pembangunan pusat data (data center) karena didukung konsep ekonomi hijau.
“Ekonomi digital butuh server, pusat data, dan energi terbarukan. Di Rebana kita punya banyak waduk dan bendungan yang bisa dimanfaatkan untuk panel surya serta pasokan air dan sistem pendingin yang dibutuhkan fasilitas semacam itu,” jelasnya.
Ia menambahkan jika Indonesia bisa merebut hanya 1 persen dari nilai pasar ekonomi digital dunia yang diproyeksikan mencapai ratusan triliun dolar, dampaknya akan sangat besar bagi pertumbuhan nasional.
Selama sembilan bulan pengelolaan terakhir, pertumbuhan ekonomi Rebana sudah melampaui rata-rata nasional dan provinsi Jawa Barat. Dukungan dari tujuh bupati dan satu wali kota di kawasan itu membuatnya optimis Rebana bisa menjadi penggerak utama perekonomian daerah.
“Kalau ekonomi tumbuh, penyerapan tenaga kerja juga bertambah, dan usaha mikro, kecil, dan menengah pun akan terlibat luas sebagai pemasok atau pendukung industri. Ini salah satu jawaban untuk mengurangi angka pengangguran di Jawa Barat secara bertahap,” Kata Helmy.
Selain pembahasan ekonomi, Bupati Sumedang Dony menyinggung isu yang beredar di media sosial. Ia menyatakan prihatin dan mengecam konten yang tidak mendidik serta bertentangan dengan nilai luhur bangsa.
“Kita harus memperkuat fondasi keluarga, pendidikan moral, dan keagamaan. Pengawasan akan diperketat bersama kepolisian, instansi terkait, dan masyarakat. Setiap informasi akan diverifikasi dan ditindaklanjuti agar tidak menyebar luas,” tegasnya.*










