Beranda / Sosial / Isu ‘Gay Sumedang’ Jadi Sorotan Netizen, Postingan Ditonton 116 Ribu Kali dan Dibagikan 4,4 Ribu Kali

Isu ‘Gay Sumedang’ Jadi Sorotan Netizen, Postingan Ditonton 116 Ribu Kali dan Dibagikan 4,4 Ribu Kali

Sumedang – Isu keberadaan sejumlah grup Facebook yang mengatasnamakan komunitas gay di Kabupaten Sumedang menjadi perhatian warganet. Pembahasan mengenai grup-grup tersebut ramai diperbincangkan setelah diunggah akun Instagram @tahuekspres dan memicu ribuan respons dari pengguna media sosial.

Berdasarkan pantauan, terdapat beberapa grup Facebook yang menggunakan nama wilayah di Sumedang. Di antaranya Grup “GAY SUMEDANG, WADO, CIMUNGKAL LEMAH SUGIH DAN SEKITARNYA” dengan 1.517 anggota, “Gay Buahdua, Conggeang, Ujungjaya, Tomo, Paseh Sumedang” dengan 2.749 anggota, “Gay Sumedang” dengan 2.930 anggota, serta “GAY SUMEDANG CIMALAKA” dengan 394 anggota.

Unggahan terkait keberadaan grup-grup tersebut dipublikasikan akun Instagram @tahuekspres pada Sabtu (20/6/2026). Hingga Selasa (23/6/2026) pukul 08.45 WIB, unggahan tersebut telah ditonton sebanyak 116 ribu kali, mendapatkan sekitar 1,3 ribu komentar, dan dibagikan sebanyak 4,4 ribu kali.

Ramainya respons netizen menunjukkan tingginya perhatian masyarakat terhadap isu yang berkembang di media sosial tersebut. Beragam komentar muncul hingga ribuan, menunjukkan hal tersebut sangat menyita perhatian publik.

Aktivis Sosial dan Kemanusiaan Sumedang, Ust. Dedi Mulyadi, turut menanggapi fenomena tersebut. Menurutnya, keberadaan grup-grup yang ramai diperbincangkan itu perlu menjadi perhatian bersama, termasuk pemerintah daerah.

“Dengan viralnya kasus LGBT ini, kami berharap pemerintah dapat membuat peraturan daerah. Mau tidak mau LGBT ini ada di Sumedang, grup Facebook-nya ada dan anggotanya cukup banyak. Dengan adanya perda ini kami berharap dapat meminimalisir keadaan, menyadarkan para pelaku, dan melindungi generasi muda di masa yang akan datang,” kata Dedi kepada Tahu Ekspres, Selasa (23/6).

Selain mendorong adanya regulasi daerah, Dedi juga mengimbau orang tua dan pihak sekolah untuk meningkatkan perhatian terhadap anak-anak dan peserta didik.

“Kami juga menghimbau agar orang tua menjaga anak-anaknya. Pihak sekolah juga perlu memperhatikan murid-muridnya agar tidak menjadi korban para pelaku LGBT,” ujarnya.

Meski demikian, informasi yang beredar di media sosial terkait aktivitas maupun identitas anggota grup-grup tersebut belum dapat diverifikasi secara independen. Keberadaan grup di media sosial juga tidak serta-merta menunjukkan aktivitas atau perilaku seluruh anggotanya di dunia nyata.

Tag: