Pilih Mundur dari Jabatan, Polemik Kades Cintamulya Jatinangor yang Sempat Terjerat Kasus Narkoba
Sumedang – Kepala Desa Cintamulya, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, Syarif Wahyudi, yang sempat terjerat kasus penyalahgunaan narkoba jenis sabu, menyatakan telah menyerahkan berkas pengunduran dirinya kepada Badan Permusyawaratan Desa (BPD), Rabu (2/4/2026).
Keputusan tersebut diambil sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus upaya meredam konflik di tengah masyarakat.
Syarif mengatakan, keputusan untuk mundur sebenarnya sudah menjadi pilihannya sejak awal, bahkan sebelum dirinya menjalani rehabilitasi.
“Sudah, sudah diserahkan ke BPD (berkas pengunduran diri). Harapannya begini, keputusan ini sesuai dengan yang diharapkan oleh kabupaten, karena ada dua pilihan, antara mengundurkan diri atau diberhentikan, dari awal sebelum saya direhab,” ujar Syarif saat diwawancarai Tahu Ekspres.
Ia mengaku telah berbicara secara kekeluargaan dengan berbagai pihak serta menyadari kesalahan yang telah diperbuatnya. Namun, selama menjalani rehabilitasi ia sempat mendapat informasi bahwa status jabatannya masih aman, yang kemudian memicu dinamika di masyarakat.
“Saya sudah berbicara secara kekeluargaan, menyadari kesalahan saya, bahwa saya siap mundur. Cuma selama saya direhab sampai keluar, dari pak camat dan sebagainya disampaikan bahwa status pekerjaan saya aman, sehingga mungkin muncul konflik di lapangan,” katanya.
Menurut Syarif, ketidakpuasan sebagian masyarakat juga menjadi salah satu pemicu polemik yang terjadi. Ia menilai, apabila keputusan terkait status jabatannya ditetapkan sejak awal, konflik kemungkinan bisa dihindari.
“Banyak ketidakpuasan dari masyarakat, apalagi yang kontra. Kalau keputusan saat itu sudah keluar, mungkin tidak akan tercipta konflik seperti ini, karena saya sudah menyadari dari awal. Silakan saya mengundurkan diri, sadar dengan kesalahan saya,” ucapnya.
Ia berharap, setelah pengunduran dirinya, situasi di Desa Cintamulya bisa kembali kondusif dan tidak ada lagi gesekan di tengah masyarakat.
“Harapan setelah saya mundur, karena kemarin sempat ada sedikit percikan konflik, ada aksi-aksi dari warga dan sebagainya yang mungkin atas nama pribadi. Tujuan saya mundur intinya ingin menciptakan kondusivitas kembali di wilayah Cintamulya agar lebih baik ke depannya,” tuturnya.
Terkait rencana politik ke depan, Syarif mengaku belum memiliki target. Ia memilih fokus pada proses pemulihan diri serta memperbaiki kesalahan yang pernah terjadi.
“Kalau soal masa jabatan sampai 2028 atau rencana pencalonan, posisi saya saat ini akan fokus menikmati masa penyembuhan dan memperbaiki kesalahan-kesalahan kemarin. Intinya ingin mengembalikan dulu nama baik di masyarakat dan membuktikan bahwa saya sekarang sudah berubah ke arah yang lebih baik,” katanya.
Sebelumnya, Ketua DPC APDESI Kabupaten Sumedang, Welly Sanjaya, juga telah mengingatkan bahwa gejolak di masyarakat merupakan hal yang tidak bisa dihindari dalam situasi tersebut. Meski begitu, secara organisasi, pihaknya tetap berupaya memberikan pendampingan kepada para kepala desa.
“Sebelumnya saya pernah memberikan masukan juga untuk kawan saya ini. Secara organisasi kami selalu melakukan pendampingan kepada kawan-kawan kepala desa se-Kabupaten Sumedang. Kalau mengundurkan diri, konsekuensinya mungkin beliau bisa mencalonkan lagi di waktu lain. Kalau diberhentikan, tentu harus sesuai dengan regulasi yang ada, dan alhamdulillah apapun keputusan yang beliau pilih semoga jadi yang terbaik” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pemerintahan Desa pada Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Sumedang, Dadang Rustandi membenarkan bahwa berkas pengunduran diri Syarif telah diterima dan saat ini masih dalam proses administrasi.
“Ya, berkasnya sudah masuk. Kami baru menerima dari BPD dan saat ini masih menunggu surat dari camat,” ujarnya, Kamis (2/4/2026).







