Aksi Mural Jadi Bentuk Kekecewaan, Pemuda Cintamulya Minta Kades Mundur dari Jabatan Usai Rehabilitasi Kasus Sabu
Sumedang – Aksi mural di kawasan Insan Sandang, Desa Cintamulya, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, dilakukan sejumlah pemuda sebagai bentuk protes dan ketidakinginan warga terhadap Kepala Desa Cintamulya yang berinisial SW pada Minggu (15/3/2026), bilamana SW kembali aktif menjabat usai menjalani rehabilitasi kasus penyalahgunaan narkoba jenis sabu, setelah sebelumnya diamankan pihak kepolisian pada Rabu (6/12/2025).
Tokoh pemuda Desa Cintamulya, Dindin Darmajaya, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk ketidakpuasan, ketidakpercayaan, serta penolakan masyarakat terhadap kepemimpinan kepala desa.
“Terkait adanya penulisan di tembok Insan Sandang, itu merupakan bentuk ketidakpatutan, ketidakpuasan, dan ketidakpercayaan lagi masyarakat terhadap Kepala Desa Cintamulya mengenai etik seorang kepala desa yang terbukti telah melakukan penyalahgunaan narkoba, mabuk di muka umum, dan pemalakan,” kata Dindin saat diwawancarai Tahu Ekspres, Sabtu (28/3/2026).

Ia menjelaskan, aksi tersebut juga menjadi bentuk penolakan terhadap kembalinya kepala desa pasca rehabilitasi. Menurutnya, rehabilitasi hanya menyembuhkan dari ketergantungan narkoba, namun tidak serta-merta memulihkan kepercayaan masyarakat.
“Oleh karena itu, saya pribadi dan rekan-rekan melakukan aksi penulisan tersebut sebagai penolakan terhadap kembalinya Kepala Desa Cintamulya pasca rehabilitasi. Rehabilitasi hanya menyembuhkan dari narkoba, bukan membersihkan etik, perilaku, dan kepercayaan masyarakat,” ujarnya.
Selain itu, ia juga menyoroti belum adanya respons yang dinilai jelas dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) serta Bupati Sumedang terkait petisi dan tuntutan warga.

“Aksi ini juga sebagai bentuk perlawanan terhadap mandegnya respon DPMD dan Bupati terkait petisi dan tuntutan masyarakat yang telah dilayangkan,” katanya.
Menurut Dindin, sebagian masyarakat juga menilai kepala desa tersebut sudah tidak layak melanjutkan kepemimpinan.
“Masyarakat menganggap Kepala Desa Cintamulya sudah tidak layak lagi meneruskan kepemimpinannya dan menginginkan yang bersangkutan mundur dari jabatannya,” ucapnya.
Ia menambahkan, harapan masyarakat ke depan agar pemerintahan Desa Cintamulya kembali berjalan sesuai fungsi dan tujuan desa.
“Masyarakat berharap pemerintahan Desa Cintamulya kembali sesuai filosofi desa, yaitu cinta dan mulia, serta fokus mensejahterakan masyarakat, bukan untuk kepentingan pribadi,” tuturnya.
Sementara itu, Ketua RW 03 Citanggulun Desa Cintamulya, Didin Kamsudin, mengungkapkan sejumlah keluhan warga yang selama ini beredar di masyarakat. Di antaranya dugaan pemotongan gaji hansip dan kader posyandu, perilaku mabuk di ruang publik, hingga dugaan kurangnya transparansi sejumlah program desa.
Selain itu, terdapat pula keluhan terkait pengelolaan pembangunan desa, program sertifikat tanah warga, hingga pengelolaan pasar desa yang dinilai belum transparan.
“Semua inti masalah sudah tercover. Pada intinya, dengan melihat semua kasus yang ada, masyarakat menuntut agar Kepala Desa Cintamulya segera mengundurkan diri daripada harus diberhentikan secara tidak hormat. Mengundurkan diri dinilai lebih terhormat demi masa depan yang bersangkutan,” ujar Didin Kamsudin.
Ia menambahkan, berbagai persoalan tersebut telah diketahui publik dan menjadi perhatian berbagai unsur masyarakat.
“Semua ini sudah diketahui publik, baik pemuda, tokoh masyarakat, kader maupun DKM. Akhirnya para pemuda meluapkan emosinya lewat aksi coret-coret tembok sambil menunggu keputusan akhir melalui Musyawarah Desa Khusus,” pungkasnya.







