Penjelasan BMKG Terkait Fenomena Langka di Langit Sumedang
SUMEDANG – Fenomena langka muncul di langit Sumedang dan menyita perhatian warga. Dua warga dari lokasi berbeda melaporkan munculnya lingkaran cahaya di sekitar Matahari, Sabtu (20/4/2025) siang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan fenomena itu merupakan halo matahari dan tidak berbahaya.
Ketua Tim Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG, Ida Pramuwardani, menjelaskan bahwa halo matahari adalah fenomena optik atmosfer yang terjadi secara alami akibat interaksi cahaya dengan kristal es di awan tinggi.
“Fenomena ini terbentuk akibat pembiasan dan pemantulan cahaya Matahari oleh kristal es berbentuk heksagonal yang terdapat di awan tinggi jenis cirrostratus,” ujar Ida seperti dilansir dari kompas.com.
Ida menuturkan, kristal es tersebut membelokkan cahaya dan membentuk lingkaran menyerupai pelangi dengan radius sekitar 22 derajat dari pusat Matahari. Warna pada cincin halo biasanya tampak samar, dengan bagian dalam berwarna merah dan bagian luar kebiruan.
“Halo matahari adalah peristiwa alamiah yang kerap terjadi terutama saat cuaca cerah dan keberadaan awan tinggi mendominasi atmosfer. Fenomena ini tidak berbahaya dan tidak perlu dikaitkan dengan tanda-tanda bencana,” jelasnya.
Ia mengimbau masyarakat agar tidak panik. “Bila ingin menyaksikan atau mengabadikan fenomena ini, kami menyarankan penggunaan kacamata hitam berfilter UV atau filter khusus kamera untuk menghindari risiko kerusakan mata akibat menatap langsung ke Matahari,” tambah Ida.
Sementara itu, warga Desa Ganeas, Kecamatan Ganeas, Sumedang, Tiara Indah (17), menjadi salah satu saksi mata fenomena langka tersebut. Ia tak sengaja melihat lingkaran cahaya di langit saat sedang menjemur pakaian.
“Kan aku lagi jemur baju, terus lihat ke atas, beda, lebih cantik awannya. Terus aku iseng aja ambil gambar,” kata Tiara saat dikonfirmasi.
Tiara memotret langit menggunakan kamera ponsel Infinix. Ia mengatakan, fenomena itu berlangsung sekitar satu jam. “Belum pernah lihat fenomena yang sama sebelumnya,” ucapnya.
Kejadian serupa juga dilaporkan di Dusun Sukamantri, RT 02 RW 03, Desa Sukamantri, Kecamatan Tanjungkerta, sekitar pukul 11.50 WIB. Awaludin Yusuf (29) mengatakan melihat fenomena tersebut selama 30 menit setelah mengetahui dari status WhatsApp temannya.
“Pertama ningal téh dina status WA rerencangan, terus ditingal langsung ka luar,” ujar Awaludin. Ia mengaku terkejut dan mengaitkan kejadian itu sebagai kemungkinan tanda alam. “Reuwas, mungkin pertanda alam naon,” katanya.
Meski begitu, Awaludin menegaskan tidak ada aktivitas luar biasa yang terjadi setelah fenomena tersebut. Ia pun baru kali ini menyaksikan peristiwa serupa.
BMKG memastikan, pemantauan atmosfer dan kondisi cuaca akan terus dilakukan secara berkala untuk mengantisipasi hal-hal lain yang mungkin terjadi.






