Akademisi UPI Soal Program Barak Militer untuk Siswa: Solusi Praktis tapi Jangan Sekadar ‘Gebrak Tumila’
Sumedang – Program siswa bermasalah masuk barak militer yang diusulkan Gubernur Jawa Barat Kang Dedi Mulyadi menuai beragam respons. Akademisi, Dosen Pendidikan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Diah Gusrayani, menilai ide tersebut merupakan langkah berani dan layak dipertimbangkan sebagai solusi jangka pendek.
“Sebagai solusi praktis saat ini, ini merupakan gebrakan yang baik. Program siswa masuk barak militer ini oke lah,” ujar Dr. Diah saat diwawancarai Tahu Ekspres, Senin (12/5/2025).
Menurut Diah, barak militer dapat memberikan suasana baru, atau refreshment, bagi siswa yang bermasalah.
“Barak militer ini akan memberikan refreshment, sudut pandang baru, mungkin teman-teman baru. Jika ada treatment yang kena ke hati, bisa jadi siswa berubah,” jelasnya.
Meski demikian, Diah menekankan pentingnya evaluasi menyeluruh terhadap sistem pendidikan nasional. Ia menyebut gagasan melibatkan pihak militer sebagai bentuk koreksi terhadap peran pendidikan formal dan keluarga.
“Ini bukan pukulan keras, tapi cubitan lah ya terhadap sistem pendidikan. Ketika harus melibatkan pihak lain seperti militer, artinya ada yang salah dengan pola yang selama ini dijalankan,” tutur Diah.
Pelibatan pihak lain yaitu militer, lanjut Diah, menurutnya perlu dilakukan, bilamana pendidikan yang ada saat ini tidak sampai pada substansinya.
“Nah, pendidikan yang ada saat ini mungkin hanya menyentuh permukaan atau surface, tidak ke substansi. Sehingga efek yang diharap oleh semua pihak belum terlihat atau belum terwujud. Maka perlu melibatkan pihak lain dalam mendidik anak-anak,” ucapnya.
Bahkan, ia menyarankan agar para orang tua juga turut dilibatkan dalam program pembinaan semacam ini.
“Kalau saya boleh usul, orang tuanya juga perlu masuk barak militer kalau dianggap kurang mumpuni dalam mendidik anak,” cetusnya.
Diah juga berpandangan, program tersebut merupakan gebrakan yang baik, bilamana di dukung oleh semua pihak.
“Jadi semua pihak harus bergerak dan, mendukung, kemudian melakukan upaya dengan kapasitas masing-masing untuk ikut menguatkan karakter anak tidak hanya dengan treatment ini, orangtua, masyarakat, sekolah dan stakeholder (didukung semua pihak).
Diah juga mengingatkan agar program ini tak hanya menjadi gebrak tumila (gebrakan sesaat dalam peribahasa Sunda).
“Parenting sangat penting. Program ini jangan hanya jadi one man show atau gebrak tumila. Harus ada efek jangka panjang dan monitoring berkelanjutan. Evaluasi dari periode ke periode juga harus disampaikan secara jujur,” pungkasnya.







