BudayaPemerintahanPendidikan

‘Ngalaksa’ di Rancakalong Jadi Tradisi Penuh Syukur dan Nilai Budaya, Ini Kata Kepala Desa Cibunar

Sumedang – Tradisi adat Ngalaksa kembali digelar di Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang pada Selasa (13/5/2025). Upacara budaya tahunan ini bukan sekadar seremoni, melainkan ungkapan syukur masyarakat terhadap hasil panen padi sekaligus pelestarian kearifan lokal yang sarat makna.

Kepala Desa Cibunar, Heni Susilawati, mengatakan Ngalaksa menjadi momen penting yang mencerminkan hubungan harmonis antara manusia dan alam, khususnya dalam budaya agraris Sunda.

“Ngalaksa ini adalah bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil panen. Selain itu, ini juga jadi sarana untuk melestarikan nilai-nilai budaya dan adat istiadat masyarakat Sunda,” ujar Heni saat diwawancarai Tahu Ekspres, Kamis (15/5/2025).

Baca Juga :  Pemkab Sumedang Salurkan Beras Cadangan untuk Warga Terdampak Disposal Tol Cisumdawu

Upacara Ngalaksa digelar secara bergiliran oleh sejumlah rurukan atau kelompok masyarakat di Rancakalong. Prosesi uniknya melibatkan pembuatan laksa dari beras hasil panen, arak-arakan membawa padi ke lumbung, hingga ritual simbolik lainnya yang penuh makna.

“Ngalaksa bukan hanya prosesi adat. Di dalamnya ada nilai-nilai luhur seperti gotong royong, persatuan, dan regenerasi budaya. Ini jadi ajang pendidikan budaya untuk generasi muda juga,” tambahnya.

Baca Juga :  Dari Keterbatasan ke Keberhasilan: Festival Film Pendek Sumedang Buktikan Daya Kreatif Tanpa Batas

Selain sisi budaya, Ngalaksa juga berdampak positif pada ekonomi lokal. Warga turut memeriahkan acara dengan berjualan makanan tradisional, cendera mata, dan produk UMKM lainnya. Tak heran, tradisi ini juga menjadi daya tarik wisata budaya yang rutin dinanti setiap tahun.

Baca Juga :  Kades Ngeluh Bantuan Sosial tak Tepat Sasaran, Begini Penjelasan Pendamping

“Biasanya digelar di bulan Mei atau Juni. Banyak wisatawan datang untuk melihat langsung prosesi adat ini. Tentu saja, ini sangat mendukung perputaran ekonomi warga,” jelas Heni.

Lebih dari sekadar perayaan, Ngalaksa menyimpan makna simbolis tentang harapan masyarakat terhadap kesuburan tanah, panen melimpah, dan rezeki yang berkelanjutan.

“Harapannya, Ngalaksa ini terus dilestarikan. Karena selain menjadi identitas budaya, ini juga warisan berharga yang memperkuat jati diri masyarakat Rancakalong,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button