Sumedang – Ketika matahari mulai menyingsing di atas kota Sumedang, Firman Hermana sudah siap melayani pembeli yang datang ke Taman Endog. Seolah tak ada waktu istirahat, bagi pria berusia 32 tahun asal Lembang itu nyatanya telah berjualan selama 3 hari penuh, bahkan buka 24 jam non-stop jelang Hari Raya Idul Fitri.
“Setiap tahun saya pasti datang ke Sumedang. Kali ini mulai dari Senin, tiga hari yang lalu, mudah-mudahan stok bisa habis sebelum malam takbir,” ujar Firman disela-sela kesibukanya menyusun buket bunga.
Taman Endog Jadi Lebih Indah dengan Warna-warni Bunga, sekeliling trotoar taman yang menghadap jalan raya kota Sumedang kini terlihat lebih hidup, dikelilingi ragam bunga dengan aroma yang menyegarkan.
Dari kejauhan, mata langsung tertarik pada warna-warni yang terpajang rapi, mulai dari putih kemilau sedap malam, merah muda lembut baby asher, hingga warna klasik mawar yang selalu menjadi bunga favorit.
Selain jenis-jenis tersebut, Firman juga menyediakan bunga tipa, glentini, dan kalimero.
“Saat ini mawar memang yang paling banyak dicari secara umum, tapi di lokasi ini buket bunga dan sedap malam yang paling laris,” jelasnya.
Untuk memenuhi kebutuhan berbagai kalangan, Firman menyajikan pilihan cara pembelian yang fleksibel. Warga bisa membeli bunga per batangan, dalam bentuk bunga tabur, atau buket yang sudah dikemas dengan rapi sesuai permintaan.
Kisaran harganya juga sangat terjangkau, mulai dari Rp10 ribu hingga Rp40 ribu.
“Semua orang berhak mendapatkan bunga cantik untuk merias rumah atau sebagai hadiah jelang lebaran,” ucapnya.
Sementara itu, Firman menuturkan, bahwa semua bunga itu berasal dari Lembang-Bandung, khususnya daerah Pisawa. Ia sendiri tinggal di Kampung Cipersing RT 05 RW 14 Desa Jabudipa, Lembang. Di sana merupakan daerah yang dikenal sebagai pusat penghasil bunga dengan jenis yang beragam.
“Banyak pedagang bunga di sini dari Lembang juga, kita semua kenal satu sama lain. Lembang memang punya banyak jenis bunga yang baik kualitasnya,” jelas Firman.
Tak sedikit tantangan yang dihadapi dalam berjualan bunga, terutama di musim kemarau yang membuat suhu udara cukup panas. Menurut Firman, kendala utama adalah bunga yang mudah layu jika terkena sinar matahari secara langsung.
“Kalau kepanasan, bunga cepat layu. Jadi saya harus benar-benar memperhatikanya kalau sudah terlalu terik, saya siram dulu sampai tidak panas lagi baru pajang kembali di depan,” ungkapnya.
Dengan dedikasi yang tinggi dan harga yang terjangkau, Firman berharap bisa terus memberikan keindahan bunga bagi masyarakat Sumedang setiap tahunnya pada saat jelang lebaran.*










