5 Warga Wado Terjebak di Pedalaman Papua, Dijanjikan Proyek Bangunan, Mandor Diduga Tak Bertanggung Jawab
Sumedang – Lima warga Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, dilaporkan terjebak di wilayah pedalaman Papua setelah dijanjikan pekerjaan proyek bangunan oleh seorang mandor. Namun hingga hampir satu bulan berada di lokasi proyek di Distrik Dekai, Kabupaten Yahukimo, Provinsi Papua Pegunungan, mandor yang membawa mereka tidak kunjung datang ke lokasi.
Kelima warga tersebut diketahui berangkat ke Papua pada 14 Februari 2026 bersama seorang mandor yang berasal dari Desa Cisurat, Kecamatan Wado. Mereka dijanjikan pekerjaan proyek bangunan dengan sistem pembayaran upah setiap dua minggu atau berdasarkan volume pekerjaan yang diselesaikan.
Namun setelah tiba di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, mandor tersebut justru pergi ke Batam dengan alasan akan mengerjakan proyek lain terlebih dahulu. Sementara lima pekerja asal Wado tetap melanjutkan perjalanan menuju Papua.
Setibanya di Distrik Dekai yang merupakan ibu kota Kabupaten Yahukimo, mereka kemudian ditempatkan di lokasi proyek yang berada di kawasan hutan pedalaman. Wilayah tersebut diketahui rawan konflik bersenjata.
Menurut salah satu pekerja, mereka dijanjikan upah berdasarkan hasil pekerjaan, misalnya pemasangan keramik dihitung per meter sebelum dibayarkan setiap dua minggu sekali.
Namun hingga hampir satu bulan menunggu, mandor yang membawa mereka tidak pernah datang ke lokasi proyek. Salah satu dari lima pekerja tersebut bahkan merupakan teman lama sang mandor karena sama-sama berasal dari Kecamatan Wado.
Akibat kondisi tersebut, para pekerja kehabisan bekal dan mengalami kesulitan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
“Untuk bertahan hidup kita kerja ke mandor lain, karena rombongan kita mandornya nggak ada. Kita ikut kerja semingguan lah supaya bisa makan, karena mandor kita nggak ada,” kata salah satu pekerja asal Dusun Pasir Hurip, Desa Sukajadi, Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, Selasa (10/3/2026).
Ia mengatakan, selama berada di wilayah Dekai mereka terkadang mendapat bantuan makanan dari prajurit TNI yang sedang berjaga di sekitar lokasi.
Selain itu, mereka juga mencari pekerjaan sementara dengan membantu pekerjaan mandor lain agar bisa bertahan hidup.
Ia mengungkapkan, pihak Pemerintah Kabupaten Sumedang dan Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menghubungi mereka dan tengah mengupayakan kepulangan ke daerah asal.
“Saya dapat kabar akan dikasih tiket pesawat untuk pulang nanti hari Kamis. Untuk teknisnya saya belum tahu, tapi alhamdulillah sudah ada perhatian dari pemerintah untuk mengupayakan pulang, karena kami di sini sama sekali tidak punya ongkos, jangankan ongkos, untuk makan saja susah,” ujarnya.
Ia menjelaskan, rombongan pekerja yang berangkat bersama mandor tersebut sebenarnya berjumlah 14 orang dari beberapa daerah.
Rinciannya, lima orang berasal dari Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang, satu orang dari Cianjur, empat orang dari Jawa Tengah, dan empat orang lainnya dari Kabupaten Garut.
Namun empat pekerja asal Garut telah lebih dahulu pulang karena memiliki biaya sendiri untuk membeli tiket pesawat.
Sementara pekerja lainnya masih bertahan di wilayah Dekai sambil menunggu kepastian bantuan kepulangan dari pemerintah.
Untuk diketahui, perjalanan udara dari Kabupaten Yahukimo menuju Jakarta tidak tersedia secara langsung. Penumpang biasanya harus terbang dari Bandara Dekai (DEX) menuju Bandara Sentani di Jayapura (DJJ) terlebih dahulu.
Maskapai seperti Trigana Air melayani rute Dekai–Jayapura dengan waktu tempuh sekitar 45 menit. Setelah itu perjalanan dilanjutkan dari Jayapura menuju Bandara Soekarno-Hatta Jakarta (CGK).
Harga tiket penerbangan sekali jalan dari Jayapura menuju Jakarta umumnya berkisar antara Rp 5.213.500 hingga Rp 8.118.255, tergantung maskapai dan jadwal penerbangan.
Dengan kondisi tersebut, para pekerja mengaku tidak memiliki biaya untuk membeli tiket kepulangan sehingga berharap bantuan dari pemerintah agar bisa kembali ke kampung halaman dengan selamat.







