TAHUEKSPRES, SUMEDANG – Pasca terjadinya polemik di tubuh LSM GMBI Sumedang, sejumlah warga perwakilan terdampak pembangunan PLTA Jatigede dari 3 Desa yakni, Desa Cipeles, Kadujaya dan Desa Karedok menyatakan sikap menolak campur tangan DPP LSM GMBI terkait penyelesaian pembebasan lahan di area proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jatigede.
Hal itu disampaikan tokoh perwakilan warga terdampak PLTA Jatigede Kadir kepada wartawan di Cijambe Paseh Sumedang Jawa Barat (Jabar), Kamis (18/7/2024).
“Jadi, kami melihat permasalahan yang terjadi terhadap tokoh pembela masyarakat yang meliputi 3 desa ini. Sudah jelas-jelas, sejak awal Bapak Yudi Tahyudin Sunardja yang telah mendampingi kami dan tentunya sudah sangat berkorban. Baik itu berkorban waktu, tenaga, pikiran hingga materi,” ucap Kadir.
Pengorbanan itu, sambung Kadir, dilakukan Bapak Yudi Tahyudin semata-mata untuk warga terdampak proyek PLTA Jatigede mulai tahun 2019 hingga 2024.
“Kemudian, melihat pendampingan yang dilakukan Bapak Yudi Tahyudin kepada masyarakat ini berujung didzolimi. Tentu saja, kami tidak melihat LSM GMBI, yang kami tahu hanya Bapak Yudi Tahyudin yang membela kami,” tegas Kadir.
Oleh karena itu, terang Kadir, masyarakat yang terdampak atas pekerjaan PLTA Jatigede hanya mengetahui sosok Bapak Yudi Tahyudin bukan LSM GMBI.
“Pada saat kami merasa susah, dimana orang-orang DPP LSM GMBI berada. Lalu dimana mereka berkorban uang, tenaga, waktu, dan pikiran. Yang ada, hanya sosok Bapak Yudi Tahyudin saja ketika kami butuh beliau yang selalu ada untuk membantu kami,” katanya.
Ia mengatakan, jangan hanya karena masalah organisasi, kemudian sosok Yudi Tahyudin dihilangkan dalam masalah pendampingan warga terdampak PLTA Jatigede.
“Terus terang, kami tidak rela. Mengingat, posisi kami masih dirugikan. Apalagi tanah kami belum dibayar. Oleh sebab itu, kami tidak butuh LSM GMBI, karena kami sangat tahu perjuangan dari seorang tokoh Yudi Tahyudin yang telah memperjuangkan kami hingga saat ini,” ucapnya.
Kadir memastikan, akan tetap berjuang bersama Bapak Yudi Tahyudin Sunardja, apapun yang terjadi.
“Jangan ganggu kami. Jangan kalian datang setelah mau dibayar. Itu namanya pahlawan kesiangan. Sekali lagi kami katakan dan tegaskan kami yang dirugikan punya tanah. Kami yang menjadi korban dan jangan cari manfaat dari penderitaan kami,” pungkas Kadir. (*)







