Program Gubernur Jabar Kirim Pelajar Bermasalah ke Barak Militer, Langkah ‘Rehabilitatif’ atau ‘Kuratif’?
Sumedang – Setelah program pengiriman pelajar bermasalah atau berperilaku menyimpang ke barak militer yang digagas oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, berjalan hampir satu bulan, program ini menuai beragam tanggapan. Sebagian menilai sebagai langkah rehabilitatif untuk membentuk fisik dan karakter, sementara yang lain lebih mempertimbangkannya sebagai pendekatan kuratif dari sudut pandang psikologis.
“Dalam kesehatan psikologi, biasanya digunakannya kuratif daripada rehabilitatif,” kata Akademisi Psikologis Universitas Padjadjaran Jatinangor, Fitriani Yustikasari Lubis, saat dihubungi Tahu Ekspres lewat WhatsApp, Selasa (27/5/2025).
Ia juga menerangkan perbedaan antara rehabilitatif dan kuratif dalam sudut pandang psikologis, yang mana keduanya punya peran yang sama-sama menyembuhkan, namun berbeda sasaran penyembuhannya.
“Keduanya menyembuhkan, tapi kalau bahasanya rehabilitatif lebih ke menyembuhkan secara fisik,” tambahnya.
Sementara itu, Bupati Sumedang, Dony Ahmad Munir, meninjau langsung kondisi para pelajar saat psikotes dan medical check-up, setelah hampir satu bulan program tersebut berjalan.
“Kami ingin melihat seperti apa hasilnya, dari sisi kesehatan, kebugaran, dan mental, dibandingkan kondisi sebelum masuk barak. Indikator keberhasilannya kami sebut dengan cageur, bageur, bener, pinter,” katanya.
Ia juga mengatakan, setelah peninjauan secara langsung, kondisi para pelajar terlihat sehat dan kuat secara fisik.
“Yang pasti mereka semuanya terlihat sehat dan kuat. Nanti akan ada data detail yang menunjukkan percepatan dan keberhasilan dari program ini,” ungkap Dony.
Namun, beberapa waktu lalu, saat Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengunjungi 40 pelajar bermasalah di Sumedang, di Makodim 0610, dirinya mengungkapkan bahwa faktor kenakalan anak adalah bagian dari introspeksi dalam sudut pandang pendidikan, Jumat (9/5/2025).
“Tumbuhnya anak-anak nakal yang tidak terkendali, ini juga bagian dari introspeksi pendidikan. Bahwa sistem belajar kita di sekolah, serta kewibawaan guru, ini menjadi faktor kenapa anak-anak bisa berperilaku seperti itu,” kata Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.







