BudayaKomunitasNasionalSejarahSosialSumedangTanjungsari

ENDED RAHMAT: Dari Arena Desa Hingga Joki Nasional Yang Merajai Pista Balap Kuda

Melawan Badai Pandemi Dan Menjajal Indonesia Derby

Sumedang – Di tengah kebisingan suara peluit yang mengumandangkan awal balapan dan hentakan kaki kuda yang menggema di atas pasir, sosok seorang pria dengan pandangan tajam mengendalikan kudanya dengan gesit.

Tangan dengan bekas luka dan otot yang terlatih menggerakan tali pacu itu adalah Ended Rahmat, seorang joki nasional yang kisahnya tak hanya tentang kecepatan, tapi perjalanan panjang dari arena daerah hingga puncak prestasi.

15 Tahun Berpacu di Arena Balap di daerahnya asalnya, Limbangan, Garut. Dulu, ketika kata ‘balap kuda nasional’ masih terdengar seperti mimpi yang jauh, Ended menghabiskan sebagian masa mudanya dengan kuda-kuda delman dan pacu tingkat daerah.

Tempat yang mungkin hanya sebatas tontonan hiburan masyarakat di daerahnya, namun bagi Ended adalah sekolah pertama yang mengajarkan segala hal tentang dunia balap kuda.

“Lima belas tahun lebih ya, saya berpacu dari satu daerah ke daerah lain di sekitar sini,” ucapnya sambil menatap jauh ke arah lintasan balap khayalan yang pernah jadi ladangnya.

Setiap pagi, ia bangun sebelum matahari terbit hanya untuk melatih kuda-kudanya, mempelajari karakter masing-masing, dan mencari cara terbaik agar bisa bekerja sama dengan sempurna di atas arena pacu.

Baca Juga :  Lumpang 'Jubleg' Berusia Ratusan Tahun Jadi Hiasan Rumah di Sumedang

Pengalaman di arena daerah bukan hanya tentang kemenangan dan kekalahan. Ia belajar bagaimana merawat kuda seperti merawat anggota keluarga sendiri, dari memilih makanan yang tepat, merawat bulu hingga kuku. Lebih dalam dari itu, Ia membangun hubungan emosional yang tak terpisahkan antara joki dan kuda.

KELAS NASIONAL: Momen Di Mana Mimpi Menjadi Kenyataan

Pada tahun 2025, saat usia pengalaman sudah cukup untuk melangkah lebih jauh, Ended memutuskan untuk memasuki kelas nasional. Tak ada kata mudah dalam langkah tersebut, balapan jadi lebih berat, kompetitor lebih tangguh dan standar yang diterapkan jauh lebih ketat.

“Saat pertama kali masuk kelas nasional, rasanya seperti anak kecil yang baru belajar jalan lagi,” cerita Ended dengan senyum tipis.

Namun, tekad yang kuat membuatnya tak pernah mundur. Ratusan kali ia melangkah ke atas pista, kali demi kali berusaha meningkatkan performanya, hingga akhirnya bisa mencapai angka prestasi dititik 2.300 poin angka ajaib.

Tentu saja hal itu pun yang membawanya mendapatkan lisensi resmi sebagai joki nasional.

Setiap poin yang diraih bukan hanya angka di kertas. Di baliknya ada malam-malam yang tak bisa tidur khawatir dengan kondisi kuda, ada luka yang tak kunjung sembuh akibat benturan saat balapan dan ada doa yang selalu ia panjatkan sebelum memasuki lintasan.

Baca Juga :  Bupati Dony Turun Tangan Berikan Solusi dan Ungkap Hikmah Dibalik Bencana Longsor Surian

Keberuntungan Dan Disiplin: Dua Sayap Untuk Meraih Kemenangan

Ended tak pernah menyembunyikan bahwa faktor keberuntungan memang hadir dalam setiap balapan. Namun, ia percaya bahwa keberuntungan hanya datang untuk mereka yang sudah bersiap dengan baik.

“Saat ada senior yang mau membantu, itu adalah berkah besar. Mereka jarang menjoki, tapi selalu berbagi ilmu berharga,” katanya. Meskipun hanya berhasil meraih kemenangan dalam ajang derby satu kali, momen itu menjadi titik balik dalam karirnya.

Menurutnya, kunci utama kesuksesan bukan hanya latihan yang keras, tapi juga kesadaran untuk tidak memaksakan diri dan kudanya.

“Kita harus tahu batasnya, tidak terlalu banyak latihan, tapi tetap konsisten. Perawatan dan pola makan yang tepat juga jadi bagian penting yang tak bisa kita abaikan,” jelas Ended sambil menunjukkan kandang kuda yang ia rawat dengan sangat rapi.

Melawan Badai Pandemi Dan Menjajal Indonesia Derby

Perjalanan karirnya tak selalu mulus. Pada tahun 2020, ketika ia baru saja meraih kemenangan gemilang di ajang pemula, pandemi COVID-19 datang seperti badai yang tak terduga.

Baca Juga :  Oasis Hijau di Jantung Sumedang: Menjelajahi Pesona Kafe Minimalis Berhias Tanaman

Banyak acara balap kuda harus ditutup, dan dunia yang selama ini menjadi bagian hidupnya tiba-tiba terhenti.

“Tapi saya tidak menyerah. Saat itu, saya lebih banyak fokus untuk merawat kuda dan meningkatkan kemampuan diri secara mandiri,” katanya.

Kesabaran itu akhirnya membuahkan hasil ketika pada tahun 2023, ia berhasil meramaikan ajang bergengsi di Padang Sawahlunto Sumatra Barat, setelah Triple Crown seri I yang diadakan di Jogjakarta kala itu.

Tentu saja, bisa menjadi bagian dari Indonesian Derby merupakan impian yang selama ini ia gapai, arena Sawahlunto menjadi saksi keberhasilanya.

Kini, matanya penuh dengan semangat ketika berbicara tentang target kedepannya.

“Saya ingin meraih kemenangan di seri kedua ajang derby pemula yang akan datang. Bukan hanya untuk diri saya sendiri, tapi juga untuk membuktikan bahwa dari daerah kecil pun bisa menjadi juara nasional,” tandasnya dengan wajah yang penuh percaya diri.

Di balik setiap langkahnya di atas lintasan, Ended Rahmat membuktikan bahwa prestasi tidak pernah datang dengan sendirinya.

Dibutuhkan perjuangan yang tak kenal lelah, cinta yang tulus pada apa yang dilakukan, kepada kudanya, dan keyakinan bahwa setiap mimpi bisa menjadi kenyataan jika kita berani berjalan menujuinya.**

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button