Sumedang – Kegiatan tasyakuran penganugerahan gelar pahlawan untuk KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan Syaikhona Kholil Bangkalan saat ini tengah digelar di Halaman PCNU Kabupaten Sumedang, Kamis (20/11/2025). Acara yang terbuka untuk umum dan gratis ini mulai dipadati warga sejak menjelang pukul 20.00 WIB.
Sejumlah tokoh hadir sebagai pembicara, di antaranya Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Taufik Nurrohim, budayawan Ngatawi Al Zastrouw, Anggota DPR RI KH Maman Imanul Haq, serta Ketua PCNU Sumedang KH Idad Isti’dad.
Anggota DPRD Jawa Barat sekaligus Ketua PKB Sumedang, Taufik Nurrohim, menegaskan bahwa tasyakuran ini menjadi bentuk syukur sekaligus penghormatan atas penetapan Gus Dur dan Syaikhona Kholil sebagai Pahlawan Nasional.
“Bahwa forum ini dilaksanakan ketika 10 November Gus Dur dan Syaikhona Kholil Bangkalan ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional, PKB wajib tasyakuran untuk menyambut perjuangan beliau ini,” ujarnya.
Taufik juga menyoroti sosok Gus Dur sebagai figur multidimensi.
“Membaca sosok Gus Dur, ada tiga muara sekaligus yang ada pada diri seorang Gus Dur, yaitu ulama, intelektual, budayawan dan seniman. Beliau adalah anak kandung otentik kebudayaan Indonesia,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua PCNU Sumedang KH Idad Isti’dad dalam sambutannya menyebut ketokohan keluarga Gus Dur sebagai sesuatu yang luar biasa.
“Kakek, putra dan cucu menjadi Pahlawan Nasional, ini luar biasa ya. Semoga ini menjadi barometer kita. Gus Dur ini kalau sekarang masih ada, mungkin akan menjadi AI hidup. Apa pun yang orang-orang tanyakan ya pasti Gus Dur akan bisa menjawab,” ujarnya disambut tawa para peserta.
Acara berlangsung semakin meriah dengan penampilan budaya khas Jawa Barat seperti Karindining Pancaraksa, tarawangsa, tari jaipong, dan pencak silat Pagar Nusa. Sorakan warga kerap pecah setiap penampilan ditampilkan.
Dalam kesempatan tersebut, Anggota DPR RI KH Maman Imanul Haq juga membagikan kisah uniknya bersama Gus Dur.
“Yang menarik, rumah saya, Mas Sastro itu pernah mengundang Slank di rumah saya. Lalu ada cerita dengan Gus Dur, tiba-tiba Gus Dur mengajak saya ke Gunung Jati. Setahun kemudian beliau ngajak lagi dan saya disuruh bikin rumah dengan ngasih pasir segenggam,” tuturnya.
“Gus Dur bilang, di rumah anda nanti akan banyak orang besar. Tiba-tiba ada yang ngasih semen buat bangun rumah, nggak tahu dari siapa. Dan alhamdulillah, berkat segenggam pasir tersebut menjadi filosofi dari Gus Dur bahwa saya mampu membangun rumah dengan rezeki saya,” ujarnya.
Warga yang hadir tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian acara. Banyak di antara mereka yang datang bersama keluarga sambil menikmati suguhan seni dan cerita para tokoh.







