BisnisEkonomiPendidikan

Budidaya Ikan Kancra di Desa Licin Cimalaka, Jadi Komoditas Bernilai Jutaan Rupiah

Sumedang – Desa Licin, Kecamatan Cimalaka, Kabupaten Sumedang, dikenal punya mata air Ciburial yang jernih dan tak pernah kering. Dari sumber air alami itu, muncul potensi besar yang kini jadi kebanggaan warga: ikan Kancra, spesies langka yang dulunya dianggap keramat.

Dulu, ikan Kancra hanya bisa ditemukan di lokasi tertentu dan tak semua orang bisa memeliharanya. Namun, seiring berkembangnya ilmu budidaya, ikan ini justru dilihat sebagai sumber penghidupan baru dengan nilai jual yang tinggi.

Salah satu tokoh yang sukses mengembangkan budidaya ikan Kancra adalah Dedin Khoerudin, warga Dusun Ciburial. Dengan ketelatenan, ia memelihara indukan hingga berhasil memijahkan ribuan benih setiap bulan.

“Dulu saya hanya coba-coba, banyak yang bilang ikan ini sulit dipijahkan. Tapi saya yakin, karena air di sini bersih, jernih, dan suhunya stabil, cocok sekali untuk Kancra,” katanya.

Kepercayaan itu terbukti. Dari beberapa indukan, kini Dedin mampu menghasilkan ribuan benih setiap bulan.

“Alhamdulillah, sekarang permintaan terus datang, bukan cuma dari Jawa Barat tapi juga luar daerah. Bahkan ada yang mulai tanya-tanya dari luar negeri,” tambahnya.

Harga benih ikan Kancra dibanderol Rp4.000–Rp6.000 per ekor, sementara ikan konsumsi bisa mencapai Rp1 juta per kilogram, terutama saat momen tertentu seperti Tahun Baru Imlek.

Meski potensinya besar, warga Licin tak hanya memandang ikan Kancra sebagai komoditas. Mereka juga menjadikannya warisan alam yang harus dijaga. Benih-benih dilepas ke sungai dan kolam desa agar populasi tetap lestari. Dukungan datang dari pemerintah desa, Dinas Perikanan, hingga mahasiswa yang terjun langsung ke lapangan.

Salah satunya, mahasiswa IPB lewat program Kuliah Kerja Nyata (KKN) mengembangkan konsep eduwisata ikan Kancra. Program ini menggabungkan potensi ekonomi, edukasi, dan konservasi.

Dalam kegiatannya, mahasiswa membangun kolam edukasi ikan Kancra yang bisa dikunjungi wisatawan, menyusun desain kawasan eduwisata berbasis potensi lokal, dan membuat desain visual kolam dengan SketchUp. Outputnya, tersedia rancangan pengembangan kawasan yang bisa jadi panduan jangka panjang serta file desain siap pakai untuk pembangunan.

Kini, wisatawan yang datang ke Licin tak hanya menikmati udara sejuk dan hamparan sawah, tapi juga bisa mencicipi olahan ikan Kancra, seperti pepes dan pais, yang punya cita rasa khas.

Dari kejernihan air Ciburial dan kerja keras warganya, ikan Kancra menjadi simbol kekayaan lokal yang mampu berkembang menjadi kekuatan ekonomi sekaligus sarana edukasi, tanpa meninggalkan nilai budaya dan kelestarian lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button