Ekonomi

Begini Keluh Kesah Jasa Antar Online di Sumedang Menerima Orderan Fiktif, Salah Satunya Hello Delivery

Jasa delivery (antar) online lokal di Kabupaten Sumedang yang berbasis pesan singkat WhatsApp mengeluh karena banyaknya orderan fiktif yang merugikan kurir. Salah satunya seperti yang dialami oleh Hello Delivery, ada dua modus penipuan melalui orderan fiktif yang pernah dialami perusahaan yang didirikan Tahun 2020-an ini.

Pemilik Hello Delivery, Rendy Ag Nugraha Kusnadi, mengatakan, perusahaannya pernah mengalami penipuan dengan modus orderan fiktif dari si penipu yang pura-pura menjadi customernya.

Pertama, kata Rendy, si penipu berpura-pura beli barang ke mini market. Pemesanan barangnya itu biasa melalui nomor whatsapp admin Hello Delivery, lalu oleh admin diberitahukan kepada kurir untuk membeli barang yang sudah dipesan dan mengirimnya ke alamat yang sudah ditentukan.

Untuk pembelian dengan cara seperti itu, pihak Hello Delivery, menggunakan dana talang yang dipegang oleh kurir. Jadi si penipu yang pura-pura jadi customer tidak diminta transfer terlebih dahulu sebelum order.

“Setelah kurir kami belanja, si penipu (customer) meminta nomor driver kemudian meminta mengisikan pulsa atau top up virtual kepada driver kami, dengan alasan biar sekalian aja. Namun ketika transaksi beres lalu di blokir nomor WA kami,” katanya kepada Tahu Ekspres melalui pesan singkat whatsapp, Rabu, 19 Juli 2023.

Atas insiden itu, pihak Hello Delivery dirugikan, karena sudah belanja barang dan yang kedua sudah beli pulsa/top up virtual. “Mungkin untuk barang masih bisa dikembalikan, tapi untuk pulsa/top up virtual sudah tidak bisa diselamatkan,” keluhnya.

Selanjutnya yang kedua, kata Rendi, yaitu pura-pura Cash on Delivery (COD) dengan modus jual paksa barang rijekan. Si penipu yang pura-pura jadi customer menghubungi nomor whatsapp admin Hello Delivery meminta membawa barang dari seseorang dengan cara COD, namun barang itu belum dibelinya. Jadi oleh kurir Hello Delivery menggunakan dana talang membeli barang yang diminta oleh si penipu yang pura-pura menjadi customer.

“Setelah barang di ambil kurir, kita mengeluarkan dana talang buat pengambilan barang tersebut. Lalu si penipu memblokir nomor kami,” kata Rendy.

Setelah diselidiki, lanjutnya, transaksi tersebut ternyata antara penjual dan pembeli diduga merupakan orang yang sama yang menggunakan 2 nomor whatsapp yang berbeda. Dengan modus seperti ini pihak kurir mengalami kerugian uang karena sudah membeli barang rijekan.

“Kedua modus ini sama-sama mereka (si penipu) menggunakan alamat palsu untuk tujuan pengantarannya. Adapun sistem COD si penipu janjian sama kurir kami tidak di rumahnya, tapi diluar dipinggir jalan, jadi kami kesulitan melacaknya,” kata Rendy.

Atas pengalamannya itu, Rendy mengaku akan membenahi Standar Operasional Prosedur (SOP) perusahaan yang dirintisnya. Manajemen Hello Delivery akan meningkatkan SOP transaksi yang dijalankan kedepannya menjadi lebih baik lagi guna meminimalisir modus penipuan yang kerap dilakukan oleh customer nakal. “Dan untuk para pelaku usaha jasa delivery lokal Sumedang, kami berharap agar lebih berhati-hati dalam bertransaksi,” tukasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button