Kampung Bongsang Sumedang: Warisan Turun-Temurun yang Kian Berkah Menjelang Idul Adha
Sumedang – Di tengah maraknya kemasan plastik yang kian mahal dan mendominasi pasar, kerajinan tradisional berbahan baku bambu bernama bongsang justru semakin dicari.
Hal itu diungkapkan oleh Dadang Gunawan, selaku ketua RW 08 Dusun Andir Desa Rancamulya Kecamatan Sumedang Utara, pada Rabu 13 Mei 2026 pagi.
Bongsang merupakan wadah pembungkus tradisional berbahan dasar bambu, dibuat melalui serangkaian tahapan mulai dari pemotongan, penyerutan, penghalusan hingga penganyaman dan penyelesaian akhir secara telaten.
Tentu saja, bongsang ini identik dengan nama makanan khas Sumedang, yakni Tahu. Pasalnya, bongsang ini lahir dari hasil kemasan asli Tahu Sumedang. Awal mula keberadaan bongsang ini juga tidak jauh dari asal usul berdirinya pelopor Tahu Sumedang pada sekitar tahun 1917-an.
Sampai saat ini bongsang ditekuni sebagai kerajinan turun‑temurun oleh warga Sumedang. Fungsi bongsang tak lagi menjadi alat mengemas Tahu, namun juga Ubi bahkan daging kurban, lantaran sifatnya yang alami dan praktis.
Menjelang Hari Raya Idul Adha, permintaan melonjak tajam, menjadikan kerajinan turun-temurun ini sebagai sumber rezeki yang semakin berlimpah.
Di wilayah tersebut, tercatat sekitar 50 hingga 60 Kepala Keluarga yang aktif menggeluti pembuatan bongsang. Bukan usaha berskala besar dengan sistem penggajian, kerajinan ini sepenuhnya dikerjakan secara mandiri dan menjadi kegiatan keluarga yang diwariskan dari generasi ke generasi.
“Ini murni kerajinan keluarga, kreativitas sekaligus sumber penghasilan tambahan bagi keluarga. Tidak ada sistem penggajian, semuanya bergantung pada ketekunan masing-masing dalam mengerjakannya,” Tutur Dadang kepada Tahu Ekspres.
Menjelang Idul Adha, permintaan meningkat pesat. Kenaikan harga plastik yang melonjak justru menjadi berkah tersendiri bagi para pengrajin bongsang. Jika pada hari-hari biasa permintaan sudah cukup stabil, kini lonjakan permintaan tercatat mencapai 20 hingga 30 persen lebih tinggi.
Bongsang yang dulunya lebih dikenal sebagai wadah tahu, kini semakin banyak dipesan untuk keperluan membungkus daging kurban karena dinilai lebih awet, kuat, dan ramah lingkungan.
“Alhamdulillah permintaan sangat banyak. Kami pun berusaha bekerja lebih giat untuk memenuhi kebutuhan yang terus meningkat ini,” tambahnya.
Dari segi jumlah produksi, satu keluarga rata-rata mampu menghasilkan satu hingga dua ikat bongsang dalam sehari, tergantung kesibukan lain yang mereka miliki. Satu ikat berisi sebanyak 100 buah bongsang.
Hasil anyaman warga ini ternyata tidak hanya beredar di sekitar Sumedang saja, melainkan telah menembus pasar luar daerah hingga ke luar Pulau Jawa. Hal ini membuktikan bahwa kualitas kerajinan tangan warga desa ini telah diakui secara luas.
Lebih menarik lagi, proses pembuatan bongsang ternyata melalui tahapan yang cukup panjang dan telaten, sepenuhnya dikerjakan secara tradisional. Dimulai dari pengambilan bambu di hutan, dipotong berukuran sekitar 71 hingga 72 sentimeter, dibelah, diserut, dihaluskan, hingga tiba pada tahap menganyam. Ada dua cara menganyam, yaitu secara manual maupun menggunakan alat bantu sederhana dari kayu. Setelah dianyam, bongsang dibentuk, dirapikan, hingga akhirnya siap digunakan.
Proses ini mayoritas dikerjakan oleh para ibu-ibu, sementara para bapak umumnya memiliki kegiatan lain seperti bertani atau berdagang.
“Kalau dihitung-hitung, dari awal hingga jadi sempurna, butuh waktu sekitar lima hingga enam jam atau setengah hari. Namun jika dikerjakan secara berkelompok dan sudah terampil, dalam satu jam saja bisa dihasilkan sekitar 50 hingga 100 buah bongsang,” jelasnya.
Bagi warga di sana, membuat bongsang bukan sekadar mata pencaharian semata. Ia telah menjadi bagian dari identitas dan budaya yang melekat kuat.
“Hampir seluruh warga di sini adalah pengrajin bongsang. Ini sudah membudaya sejak zaman nenek moyang kami, sudah ada sejak kami lahir. Jadi rasanya bongsang ini sudah menjadi nyawa kehidupan warga di sini,” ucapnya dengan penuh rasa bangga.
Kini, di tengah tantangan harga bahan baku kemasan modern yang terus naik, anyaman bambu sederhana ini justru semakin bersinar. Ia membuktikan bahwa warisan leluhur tidak hanya mampu bertahan menghadapi zaman, tetapi juga terus memberikan berkah dan menjadi tumpuan harapan kesejahteraan warga hingga ke masa depan.*







