Beranda / Sosial / Kisah Menegangkan Pelaut Sumedang Lintasi Selat Hormuz Ditengah Perang Iran – Israel

Kisah Menegangkan Pelaut Sumedang Lintasi Selat Hormuz Ditengah Perang Iran – Israel

Sumedang – Seorang pelaut asal Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Agus Hendra, menceritakan pengalamannya yang memegangkan saat kapal yang ia tumpangi melintasi Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran paling strategis sekaligus paling menegangkan di dunia karena saat ini sedang berlangsung perang Iran vs AS – Israel dikawasan itu. Sebelum berhasil melewati perairan tersebut, kapal tempatnya bekerja sempat tertahan hampir dua bulan di kawasan Timur Tengah.

Agus Hendra merupakan warga Dusun Conggeang RT 04 RW 02, Desa Conggeang Wetan, Kecamatan Conggeang, Kabupaten Sumedang. Pria kelahiran Sumedang, 9 Agustus 1993 itu bekerja sebagai boadswain atau mandor kapal di kapal jenis bulk carrier milik perusahaan pelayaran One Pioneer Shipping yang berbasis di Shanghai, China.

Agus mengatakan, kapal yang ia tumpangi berangkat dari China dengan membawa muatan general cargo menuju pelabuhan Dammam, Arab Saudi dan tiba awal Januari. Kapal tersebut diawaki oleh 23 kru dari berbagai negara.

“Awalnya kami berangkat dari China membawa general cargo untuk dibongkar di Dammam, Arab Saudi. Kapal kami diawaki 23 kru,” kata Agus saat dihubungi, Senin (16/3/2026).

Setelah proses bongkar muatan selesai, kapal yang membawa muatan biji besi tersebut seharusnya melanjutkan pelayaran. Namun saat pulang akhir Januari kapal tidak dapat langsung melintas karena harus menunggu izin dari Iran untuk melewati Selat Hormuz.

Menurut Agus, kapal mereka sempat tertahan di kawasan tersebut selama hampir dua bulan sebelum akhirnya memperoleh izin melintas dari Iran.

“Kami tertahan sekitar dua bulan sebelum akhirnya bisa melintas. Perusahaan terus berkomunikasi secara intens dengan pihak Iran sampai akhirnya kami diizinkan lewat,” ujarnya.

Saat melintasi selat Hormuz, Agus melihat dengan mata kepalanya sendiri perang Iran – Israel yang dibantu Amerika sedang berlangsung. Tak jarang diatas kepalanya rudal-rudal saling bersautan untuk menuju Israel dari Iran.

Agus menjelaskan, kapal akhirnya dapat melintasi Selat Hormuz pada 15 Maret 2026. Meski demikian, proses pelayaran dilakukan dengan pengawasan dan prosedur yang sangat ketat.

“Setelah mendapat izin, kami harus mengikuti prosedur yang sangat ketat. Waktu menyeberang Selat Hormuz sekitar lima jam sampai akhirnya berhasil lewat,” jelasnya.

Selat Hormuz dikenal sebagai salah satu jalur pelayaran tersibuk di dunia karena menjadi penghubung utama antara Teluk Persia dan perairan internasional yang berada dikawasan negara Iran. Jalur ini juga menjadi rute penting bagi kapal-kapal pengangkut energi dan berbagai komoditas internasional.

Agus mengaku pengalaman tersebut menjadi salah satu momen paling menegangkan selama bekerja sebagai pelaut.

Setelah berhasil melintasi Selat Hormuz, kapal yang ditumpanginya kini telah berada di pelabuhan Qorfakan, Uni Emirat Arab. Selanjutnya kapal tersebut akan melanjutkan perjalanan kembali menuju China.

“Sekarang posisi kapal sudah di Qorfakan, Uni Emirat Arab. Setelah ini rencananya kami akan kembali berlayar menuju China,” ungkapnya.

Agus sendiri berharap dapat segera kembali ke kampung halamannya di Kabupaten Sumedang. Ia memperkirakan baru dapat pulang ke Indonesia pada pertengahan April 2026 mendatang.

“Saya berharap bisa segera pulang ke Sumedang. Perkiraan tiba di Indonesia pertengahan April,” tuturnya.

Tag: