PemerintahanPendidikan

Tidak Dapat PIP Karena Belum Terdata di DTKS, Sejumlah Guru SMAN 2 Cimalaka Patungan untuk Ongkos Siswa Kurang Mampu ke Sekolah

TAHUEKSPRES, SUMEDANG – Sejumlah guru di SMAN 2 Cimalaka, Kabupaten Sumedang, patungan untuk biaya ongkos sejumlah pelajar yang kurang mampu. Kondisi ini terjadi, karena beberapa siswa tidak Dapat Program Indonesia Pintar (PIP), karena belum terdaftar di Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), juga ditambah kondisi orang tua siswa yang secara ekonomi memang tidak mampu membiayai anaknya untuk berangkat ke sekolah.

Kepala SMAN 2 Cimalaka, Titin Suryati Sukmadewi mengatakan, pada tahun 2024 ada sekitar 10 pelajar yang ongkosnya dibiayai melalui patungan para guru. Setiap pelajar dibantu, rata-rata Rp 250.000 per-Bulan dari hasil patungan para guru, terkhus, guru yang telah sertifikasi dan berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS).

“Patungan guru untuk biaya siswa sekolah ini ternyata sudah membudaya sejak lama, sekitar tahun 2000-an. Saya sendiri baru tahu belum lama ini, karena menjabat di sini juga baru,” kata Titin kepada TahuEkspres, Jumat (28/6/2024).

Titin juga menjelaskan, beberapa siswa jarang masuk sekolah, wali kelas biasanya melakukan home visit untuk mengetahui alasan ketidakhadiran siswa, saat home visit diketahui mana siswa yang memang bolos, mana siswa yang memang tidak bersekolah karena tidak punya ongkos.

“Jadi saat guru home visit itu, siswa yang kami bantu ini memang tidak ke sekolah karena tidak punya ongkos. Orang tuanya sendiri yang memastikan anaknya memang tidak berangkat sekolah. Jadi dari sana, kami bantu siswa itu. Tapi kalau ada siswa yang memang terbukti bolos, itu lain lagi penanganannya,” katanya.

Titin juga mengatakan, bantuan dari para guru ini menyasar siswa yang belum masuk ke dalam kategori Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS), jadi siswa yang tidak masuk DTKS ini, tidak mendapatkan bantuan dari Kementerian Pendidikan Berupa Program Indonesia Pintar (PIP).

“Kementerian memang sudah berupaya membantu siswa tak mampu melalui DTKS. Tapi, di sini, masih ada anak yang tidak terdata DTKS, siswa yang tidak masuk DTKS ini, tidak mendapatkan bantuan Program Indonesia Pintar (PIP) dari Kementerian Pendidikan.,” kata Titin.

Titin menambahkan, selain untuk ongkos berangkat ke sekolah, bantuan dari guru ini diberikan untuk siswa tidakbmampu untuk membeli seragam sekolah, hingga membiayai pelajar berprestasi namun tidak sampai kepada untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi/kuliah.

“Seperti lulusan tahun kemarin, ada dua pelajar yang kami bantu untuk biaya kuliah. Yang satu kuliah di IPB (Institut Pertanian Bogor), dia kami bantu karena berprestasi, rajin, malah sekarang itu, dia kuliah di Bogor sambil bekerja, anaknya memang terlihat semangat jadi kami bantu. Satu lagi, yang kami bantu siswa kurang mampu kuliah di UPI,” tambah Titin.

Wakil Kepala Bidang Kesiswaan SMAN 2 Cimalaka, Hendrik Setiadi mengatakan, bantuan hasil patungan guru tersebut sudah berlangsung sejak tahun 2000-an. Awalnya, bantuan tersebut diperuntukkan bagi siswa yang betul-betul tidak mampu, Dalam hal ini, guru membiayai siswa yang lokasinya sangat jauh untuk indekos di sekitar sekolah.

“Jadi setiap bulannya, kami menyisihkan dari gaji maupun tiap pencairan sertifikasi, untuk membantu siswa tidak mampu ini. Bantuannya sukarela, seiklahsnya. Tidak ada rapat khusus untuk mengumpulkan dana bantuan itu, hanya sosialisasi face to face antar-guru saja,” kata Hendrik dan Aceng Zakaria, Wakasek Sarana SMAN 2 Cimalaka.

Guru senior SMAN 2 Cimalaka Dedi Heryadi menambahkan, siswa yang dibantu dari hasil patungan para guru disalurkan setiap bulannya melalui wali kelas masing-masing siswa.

“Bantuannya kami salurkan tiap bulan melalui wali kelas, jadi betul-betul tepat sasaran,” kata Dedi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button