Tentang ‘Jatinangor City of Digital Knowledge’, Akademisi Unpad Angkat Bicara
Sumedang – Akademisi Universitas Padjadjaran (Unpad) menanggapi gagasan menjadikan Jatinangor sebagai City of Digital Knowledge atau Kota Digital Berbasis Pengetahuan. Asep Saeful Rohman, dosen Ilmu Perpustakaan dan Informasi Unpad, mengapresiasi inisiatif tersebut. Namun, ia mengingatkan agar pelaksanaannya tidak mengabaikan aspek fundamental ekosistem digital, yaitu penguasaan literasi oleh masyarakat.
“Sangat perlu,” ujar Asep saat Tahu Ekspres mewawancarainya terkait pentingnya pembangunan Perpustakaan Umum Kawasan Perkotaan Jatinangor, Rabu (11/6/2024).
Asep menjelaskan bahwa perpustakaan tersebut dapat menjadi pusat aktivitas literasi di kawasan Perkotaan Jatinangor sekaligus memperkuat jaringan layanan informasi di Kabupaten Sumedang. Ia menyebutkan bahwa salah satu ciri penting kota ialah kehadiran pusat pengetahuan seperti perpustakaan yang mampu menjadi ruang publik dalam membangun budaya literasi.
“Perpustakaan kawasan perkotaan Jatinangor bisa menjadi satelitnya Perpustakaan Umum Kabupaten Sumedang dalam membangun literasi,” kata Asep.
Lebih jauh, Asep mengajak publik untuk memahami konsep Kota Digital Berbasis Pengetahuan secara menyeluruh. Ia menekankan bahwa masyarakat tidak boleh memposisikan teknologi digital sebagai pengganti seluruh aktivitas, melainkan sebagai alat bantu.
“Kota Digital Berbasis Pengetahuan itu tidak berarti semua bisa digantikan dengan perangkat digital. Teknologi digital, apapun itu, hanyalah alat yang kita fungsikan untuk membantu, mempermudah kerja-kerja dan pelayanan kita pada masyarakat. Termasuk terkait layanan perpustakaan,” tegasnya.
Asep juga menegaskan pentingnya membangun gedung perpustakaan fisik secara profesional dan sesuai standar nasional. Menurutnya, masyarakat masih membutuhkan ruang fisik untuk berliterasi, belajar, dan meningkatkan kualitas hidup.
“Gedung perpustakaan umum yang kita kelola secara profesional dan kita lengkapi dengan teknologi tetap harus ada. Jangan sampai kita mengelola perpustakaan kalah dengan mengelola minimarket,” ujarnya.
Selain itu, Asep memperkenalkan gagasan Masyarakat Berpengetahuan 5.0, yang ia adaptasi dari konsep Society 5.0. Dalam konsep ini, masyarakat harus mampu menguasai dan memanfaatkan pengetahuan agar bisa hidup aktif dan inovatif dalam ekosistem digital.
“Masyarakat yang kita persiapkan untuk masuk ke era Society 5.0 harus bisa menguasai pengetahuan dan mendayagunakannya. Dengan begitu, mereka bisa menyelesaikan masalah, meningkatkan kesejahteraan, dan hidup secara aktif, kreatif, serta inovatif dalam ekosistem teknologi digital,” tutup Asep.
Sebelumnya, pada Sabtu (7/6/2025), Sekretaris Daerah Kabupaten Sumedang, Tuti Ruswati, menyatakan bahwa konsep Jatinangor City of Digital Knowledge mengintegrasikan sektor pendidikan, teknologi, dan pertanian. Ia menambahkan bahwa program tersebut sudah masuk dalam skala pembangunan nasional.
“Kami akan meluncurkan Jatinangor City of Digital Knowledge dan saat ini prosesnya sedang berjalan,” ungkap Tuti.







