Kisah Inspirasi Bubur Ayam Tuangyu, Bangkit dari Kegagalan
SUMEDANG – Bubur Ayam Tuangyu kini dikenal sebagai salah satu kuliner favorit di Sumedang. Kesuksesan ini lahir dari perjuangan Cucu Syarif Hidayat, pendirinya, yang lahir di Sumedang pada 28 Agustus 1984. Bisnis ini berdiri pada 23 Desember 2018, setelah Cucu mengalami kegagalan besar dalam menjalankan usaha mini resto makanan Jepang di Purwakarta. Namun, alih-alih menyerah, ia memilih bangkit dengan semangat dan strategi baru.
“Kami belajar dari pengalaman pahit. Kali ini, kami ingin menjalankan usaha yang lebih sederhana, efisien, tetapi tetap menawarkan keunikan dan kualitas rasa yang istimewa,” ujar Cucu, pendiri sekaligus pemilik Bubur Ayam Tuangyu.
Cucu dan tim memulai dengan membuka kedai kecil yang menyajikan bubur ayam dengan cita rasa khas. Sambal kering pedas yang menjadi andalannya sukses menarik perhatian pelanggan. “Awalnya kami tidak menyangka, tapi ternyata bubur ayam ini disukai banyak orang, mulai dari anak-anak hingga orang tua,” tambahnya.
Nama “Tuangyu” dipilih tanpa filosofi rumit. “Nama itu muncul begitu saja karena mudah diucapkan dan terdengar menarik. Dalam bahasa Sunda, ‘tuang’ berarti makan, tetapi kalau digabung dengan ‘yu,’ artinya jadi tidak jelas. Tapi, karena mudah diingat, kami pakai saja,” jelas Cucu sambil tertawa.
Perjalanan membangun Bubur Ayam Tuangyu tidak selalu mulus. Salah satu tantangan terberat adalah menciptakan resep unik dan menjaga konsistensi rasa di semua cabang. Untuk memastikan kualitas, Cucu mendirikan rumah produksi di Jalan Angkrek, Sumedang, dengan tim khusus yang menjaga standar kebersihan dan rasa.
Cucu juga memiliki visi besar. “Kami ingin bubur ayam dikenal dunia, seperti ramen dari Jepang atau pizza dari Italia. Mengapa makanan khas kita tidak bisa seterkenal itu?” ungkapnya penuh semangat.
Tidak hanya berbisnis, Cucu juga menjalankan program berbagi melalui sedekah bubur gratis setiap Jumat. “Ini bentuk rasa syukur kami. Tidak ada tujuan lain selain berbagi apa yang kami miliki,” tuturnya.
Melihat persaingan yang semakin ketat di dunia UMKM, Cucu mengaku prihatin, tetapi tetap optimis bahwa kreativitas dan semangat juang menjadi kunci keberhasilan. Ia pun memberikan pesan kepada pengusaha pemula, “Mulailah dari apa yang ada. Tidak perlu langsung besar, yang penting fokus pada kualitas, efisiensi, dan keunikan produk. Jangan lupa, cintai setiap prosesnya. Kami membuat bubur ini dengan sepenuh hati. Semoga setiap suapan yang Anda nikmati memberikan rasa hangat dan cinta,” tutupnya.







