Sejarah Monumen Haji Endang Sukandar
Mengenang Pengabdian Terakhir Bupati yang Gugur Saat Meramaikan Ritual Ngarot
Sumedang – Monumen Haji Endang Sukandar di Desa Karedok, Kecamatan Jatigede, Kabupaten Sumedang, bukan sekadar konstruksi bangunan yang berdiri tegak. Melainkan, dibangun sebagai bentuk penghargaan.
Monumen ini menyimpan sejarah panjang tentang seorang tokoh yang gugur dalam menjalankan tugasnya saat meramaikan ritual adat yang dikenal warga sebagai Ngarot atau Ngaruat pada tanggal 2 November 2013 silam.
“Orang Karedok biasa menyebutnya dengan istilah Ngarot, yang sebenarnya disebut Ngaruat. Ngaruat Lembur,” ujar Pak Intab, sesepuh Desa Karedok yang menyaksikan langsung kejadian pada saat itu.
Pada tahun 2013 lalu, Haji Endang Sukandar baru menjabat sekitar 3 bulan sebagai Bupati Sumedang.
Beliau baru pulang dari studi banding dan menghadiri acara Ruatan Lembur di desa tersebut, tepat saat wilayah Karedok tengah akan menjadi lokasi proyek strategis nasional milik PLN.
Setelah melalui rangkaian acara dan menyampaikan pidato sambutan, Haji Endang yang tampak kecapean bahkan sempat ‘ngibing’.
Saat hendak mengambil air untuk wudhu sebelum melaksanakan shalat Dzuhur, beliau mengalami serangan sakit jantung dan tidak dapat diselamatkan.
“Kita langsung bawanya ke rumah sakit Cideres, namun nyawanya tetap tak tertolong lagi. Akhirnya, jenazahnya dibawa ke alun-alun untuk disolatkan di Masjid Agung Sumedang,” jelas Pak Intab.
Demikian, untuk mengenang jasanya, masyarakat Desa Karedok sepakat membangun monumen.
Pembangunan yang terlaksana beberapa tahun kemudian mendapatkan sumbangan sebesar 50 juta rupiah dari Bank Sumedang, sedangkan sisanya berasal dari swadaya warga.
“Ini adalah penghargaan atau dalam istilahnya ‘pangemut-ngemut’ atas jasa beliau bagi desa kita,” ujarnya.
Bagi warga Karedok, Hajat Lembur bukan sekadar acara rakyat biasa, melainkan bagian dari identitas dan dipercaya sebagai perlindungan desa dari mara bahaya.
Hingga saat ini, adat istiadat tersebut tetap dijaga dengan teguh, sementara monumen Haji Endang Sukandar menjadi saksi bisu tentang pengorbanan seorang pemimpin yang selalu mendekati rakyatnya.**







