Sumedang – Polres Sumedang mengumumkan pemenang lomba pembasmian hama tikus Kapolres Cup yang digelar dalam rangka HUT Bhayangkara ke-80. Lomba tersebut diikuti masyarakat, kelompok tani, hingga petugas pertanian sebagai upaya menekan serangan hama tikus yang selama ini menjadi penyebab gagal panen di sejumlah wilayah.
Pengumuman pemenang digelar bersamaan dengan kehadiran Direktur Perlindungan Tanaman Pangan dari Jakarta. Juara pertama pada gelombang pertama dan kedua berhasil menangkap 62 ekor tikus.
Kapolres Sumedang AKBP Sandityo Mahardika mengatakan, kegiatan tersebut lahir dari keprihatinannya terhadap banyaknya petani yang mengalami kerugian akibat serangan hama tikus.
“Baik, terima kasih. Alhamdulillah, pada sore hari ini kita kedatangan tamu istimewa, Bapak Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, yang langsung hadir dari Jakarta untuk menghadiri perlombaan pembasmian hama tikus Kapolres Cup dalam rangka HUT Bhayangkara ke-80,” saat diwawancarai Tahu Ekspres, Sabtu (27/6/2026).
Menurut Sandityo, lomba tersebut kemungkinan menjadi yang pertama di Indonesia dengan konsep pembasmian hama tikus sebagai ajang kompetisi.
“Jadi, pada kali ini mungkin satu-satunya di Indonesia kita mengadakan lomba pembasmian hama tikus. Hal ini berawal dari keprihatinan saya saat berkeliling ke berbagai desa. Ternyata hampir 50 persen petani mengalami gagal panen. Bahkan anggota saya yang juga menjadi petani, yang biasanya panen tiga sampai empat ton, akhirnya hanya panen satu ton lebih sedikit.”
Ia mengatakan, kegiatan itu diharapkan dapat membantu petani menjaga hasil panen dari ancaman hama tikus.
“Hal itu memicu keprihatinan kami untuk membuat acara lomba pembasmian hama tikus guna meringankan beban para petani, khususnya di wilayah Sumedang, agar panennya dapat berjalan dengan baik dan tidak diserang hama tikus.”
Sandityo menyebut jumlah tikus yang berhasil dibasmi selama pelaksanaan kegiatan mencapai ratusan ekor.
“Total tikus yang berhasil ditangkap mencapai ratusan ekor. Alhamdulillah, hal ini berkat kerja keras para Gapoktan, para PPL, UPTD, serta seluruh peserta yang ada di Sumedang.”
Ia menambahkan, antusiasme masyarakat cukup tinggi sehingga lomba digelar dalam empat gelombang.
“Masyarakat sangat antusias mengikuti pembasmian hama tikus. Hari ini merupakan pengumuman pemenang gelombang satu dan gelombang dua. Total kegiatan ini dilaksanakan dalam empat gelombang. Juara pertama berhasil menangkap 62 ekor tikus.”
Dalam perlombaan tersebut, peserta membasmi tikus menggunakan metode pengasapan atau fumigasi.
“Metode yang digunakan adalah pengasapan (fumigasi) dengan memanfaatkan kompos mawar yang dicampur belerang untuk mengasapi lubang-lubang tikus di area persawahan sekitar Sumedang.”
Sementara itu, Direktur Perlindungan Tanaman Pangan pada Direktorat Perlindungan Tanaman Pangan, Dr. Rachmat, mengapresiasi inisiatif Polres Sumedang yang dinilai mampu memotivasi petani untuk lebih aktif mengendalikan hama tikus.
“Ada terobosan dalam rangka HUT Bhayangkara ke-80, yaitu melaksanakan pembasmian hama tikus. Kegiatan ini menjadi motivasi bagi para petani dalam rangka mengamankan produksi pertanian dari serangan hama tikus.”
Ia juga mengingatkan petani agar memanfaatkan pendampingan dari petugas apabila menghadapi serangan hama.
“Kepada para petani di Sumedang, untuk mengantisipasi serangan hama tikus silakan menghubungi petugas POPT setempat maupun Dinas Pertanian melalui UPTD PBTPH, yang dapat membantu para petani dalam mengatasi hama tikus.”
Rachmat mengungkapkan, gerakan pengendalian hama yang dilakukan saat kegiatan berlangsung juga menghasilkan tangkapan dalam jumlah besar.
“Tadi kami juga melakukan gerakan pengendalian hama tikus dan hasilnya luar biasa. Mungkin ini menjadi yang terbesar dalam sejarah Kapolres Cup. Saya bocorkan, tadi berhasil menangkap 140 ekor tikus hanya dalam waktu dua jam.”
Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan untuk menjaga produktivitas pertanian di Sumedang.
“Sekali lagi, terima kasih atas terobosan luar biasa dari Bapak Kapolres. Tadi juga sudah kami sampaikan kepada Pak Kadis agar kegiatan ini menjadi pemantik untuk terus dilanjutkan, sehingga produksi padi di Sumedang tetap terjaga dengan baik.”
