BudayaPemerintahan

Warga Sumedang, Lestarikan Totopong Kasumedangan di Tengah Modernisasi

Sumedang – Di tengah gempuran modernisasi, warga Sumedang, Muhamad Andi Lesmana (41) tetap teguh melestarikan budaya Sunda lewat Dapur Budaya Sunda Rancage. Berlokasi di Dusun Cibitung, Desa Padasuka, Sumedang Utara, Andi dan timnya memproduksi Totopong, ikat kepala khas Sunda, sejak 2016.

“Awalnya, kami ingin membuat iket Sunda lebih praktis dipakai tanpa meninggalkan nilai estetika dan filosofi,” kata Andi, Jumat (14/2/2025).

Beragam model Totopong yang dibuat punya filosofi mendalam, seperti Mahkuta Wangsa, Totopong Merak Ngibing, Totopong Candra Sumirat, Totopong Buaya Ngangsar, hingga Totopong Bali. Harganya pun bervariasi, mulai dari Rp15.000 hingga Rp125.000. Produk Totopong ini tak hanya laris di Sumedang dan Jawa Barat, tapi juga menembus pasar luar daerah seperti Palembang.

“Merak melambangkan ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan,” jelasnya.

Andi dan timnya terus berinovasi dengan bantuan mesin jahit dari Disperindag pada 2017-2018. Meski begitu, keterbatasan alat masih jadi tantangan utama. Saat ini, Dapur Budaya Sunda Rancage memberdayakan 3-4 warga sekitar yang awalnya tak memiliki keterampilan menjahit, namun kini mampu menghasilkan Totopong berkualitas.

“Banyak daerah bangga dengan motif mereka, seperti Mega Mendung dari Cirebon. Sumedang juga punya motif khas yang bisa dikembangkan,” katanya.

Produknya pun menarik perhatian banyak tokoh, seperti Dedi Mulyadi, Herman Suryatman, Ridwan Kamil, Anies Baswedan, Sandiaga Uno, hingga Tito Karnavian. Bahkan, pada 2020, mereka mendapat pesanan khusus 1.000 Totopong dalam seminggu dari Pemprov Jabar.

“Ke depan, Dapur Budaya Sunda Rancage tak hanya fokus pada Totopong, tapi juga pengembangan ragam hias khas Sumedang untuk batik dan seragam sekolah, hrapannya, pemerintah lebih mendukung pengrajin lokal agar budaya kita tetap lestari,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses

Back to top button