Sumedang – Kabupaten Sumedang menghadapi kondisi cuaca yang sangat mengkhawatirkan dan menjadi rawan terhadap dampak siklon tropis, menuntut perhatian serius dari seluruh stakeholder untuk segera memperkuat sistem mitigasi bencana.
Hal itu diungkapkan oleh Ayu dari BMKG Jawa Barat dalam acara Rapat Koordinasi dan Mitigasi Bencana, yang disampaikanya secara daring melalui Zoom, di Gedung Negara Kabupaten Sumedang, Senin (8/12) malam.
Melalui paparan Ayu, kondisi darurat cuaca telah menimbulkan tantangan krusial bagi pemerintah daerah dalam menentukan jenis infrastruktur yang paling tepat dan efektif untuk melindungi masyarakat.
“Urgensi pengambilan kebijakan strategis menjadi kunci utama dalam mengatasi kerentanan infrastruktur yang ada saat ini,” Tuturnya.
Realitas bencana yang mengancam juga terlihat dari terjadinya banjir di berbagai wilayah sejak awal periode puncak musim hujan, yang menandakan lemahnya sistem drainase dan infrastruktur pengendalian air.
Proyeksi cuaca bahkan menunjukkan potensi terjadinya bencana serupa atau lebih parah dalam waktu dekat, sehingga jendela waktu untuk implementasi strategi mitigasi semakin menyempit dan membutuhkan tindakan cepat serta terkoordinasi.
BMKG juga menyoroti periode kritis pembentukan siklon tropis yang berlangsung November hingga Februari, bertepatan dengan musim hujan di Indonesia.
Wilayah Indonesia selatan, termasuk Sumedang, berada dalam zona dampak langsung dengan cakupan geografis dari Sumatera Selatan hingga Jawa dan Bali.
Posisi strategis Sumedang membuat daerah ini rentan terhadap dampak tidak langsung dari aktivitas siklon, yang memiliki siklus hidup rata-rata tujuh hari dan frekuensi beberapa kali dalam satu musim.
Untuk meningkatkan ketahanan iklim, BMKG menyarankan beberapa langkah strategis, antara lain menyusun masterplan mitigasi bencana terintegrasi yang mencakup aspek infrastruktur, sosial, dan ekonomi.
Mempercepat finalisasi kebijakan APBD dan prioritas pembangunan infrastruktur tahan bencana, mengimplementasikan sistem peringatan dini dan protokol evakuasi.
Membangun kemitraan dengan lembaga meteorologi untuk monitoring berkelanjutan, serta melakukan sosialisasi masif kepada masyarakat mengenai kesiapsiagaan bencana.**
