Sumedang – Pemerintah Kabupaten Sumedang menegaskan komitmennya untuk mendorong pembangunan daerah yang selaras dengan kelestarian alam dan nilai-nilai budaya Sunda. Prinsip tersebut menjadi dasar dalam setiap program dan kebijakan yang dijalankan pemerintah daerah.
Wakil Bupati Sumedang M Fajar Aldila mengatakan, dalam perspektif budaya Sunda, alam dan budaya merupakan pangkal kehidupan yang melahirkan tata laku serta kebijaksanaan hidup masyarakat. Oleh karena itu, menjaga keseimbangan keduanya menjadi keharusan bersama.
“Ketika alam terjaga, budaya akan tumbuh. Sebaliknya, ketika alam rusak, yang terancam bukan hanya lingkungan, tetapi juga peradaban manusia itu sendiri,” kata Fajar saat membuka Sarasehan Tahun Baru 2026 bertajuk Gunem Alam dan Budaya Tatar Sunda, Bersama Bos Urip di Gedung Negara, Sabtu (24/1/2026).
Fajar menjelaskan, tata kelola pemerintahan di Kabupaten Sumedang saat ini berlandaskan nilai-nilai Sunda Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer. Nilai-nilai tersebut telah diadaptasi dalam sistem pembangunan daerah dan berkontribusi pada capaian Indeks Pelayanan Publik Sumedang yang dinilai terbaik di tingkat nasional.
“Kita punya nilai-nilai budaya Sunda yang telah diadaptasi dalam tata kelola pembangunan daerah sehingga Indeks Pelayanan Publik kita terbaik se-nasional,” ujarnya.
Ia menambahkan, berbagai persoalan lingkungan yang muncul saat ini harus menjadi pengingat bagi semua pihak untuk menata kembali cara hidup. Menurutnya, suara budaya perlu dihadirkan sebagai penuntun dalam setiap kebijakan pembangunan.
Pada tahun 2026, Pemkab Sumedang mengusung tagline Sumedang Membumi. Fajar menegaskan, setiap program pemerintah harus benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Setiap program pemerintah harus terlihat, teraba, dan terasa manfaatnya oleh masyarakat. Namun pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Kolaborasi dengan komunitas dan berbagai elemen menjadi kunci,” katanya.
Ia pun berharap sarasehan tersebut mampu melahirkan jejaring kolaboratif, rencana aksi, serta resolusi lingkungan yang konkret, membumi, dan berkelanjutan, tidak hanya untuk Sumedang tetapi juga Jawa Barat. Pemkab Sumedang, kata dia, terbuka untuk mendukung berbagai inisiatif pembangunan yang berorientasi pada keberlanjutan alam dan budaya Tatar Sunda.
Sementara itu, Ketua Pelaksana kegiatan Asep Maher menyebutkan, sarasehan digelar sebagai respons atas kegelisahan bersama terhadap masa depan alam dan budaya, khususnya di Tatar Sunda.
“Sunda adalah alam dan budaya. Ini bukan sekadar slogan, tetapi panggilan jiwa untuk kembali mencintai dan merawat apa yang kita miliki,” ujar Asep.
Kegiatan tersebut diikuti sekitar 200 peserta dari 12 kota dan kabupaten di Jawa Barat. Peserta terdiri dari pemerhati lingkungan, budayawan, seniman, hingga aktivis yang memiliki kepedulian terhadap isu kelestarian alam dan budaya.
“Harapannya, pertemuan ini tidak berhenti sebagai diskusi, tetapi melahirkan resolusi, langkah nyata, serta jejaring yang lebih kuat. Tujuan akhirnya adalah kelestarian alam dan budaya untuk anak cucu kita,” pungkasnya.
