Sumedang – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sumedang menggelar Musyawarah Kerja (Muker) Tahun 2026 di Gedung Negara Sumedang, Kamis (15/1/2026). Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Wakil Bupati Sumedang, M Fajar Aldila.
Dalam sambutannya, Fajar memberikan apresiasi terhadap kiprah PMI Sumedang yang dinilai konsisten hadir dalam berbagai pelayanan kemanusiaan, mulai dari donor darah, penanggulangan bencana, hingga layanan sosial dan kesehatan masyarakat.
“PMI memiliki peran strategis dalam menumbuhkan nilai kemanusiaan dan solidaritas sosial. Pemerintah daerah berkomitmen terus mendukung PMI sebagai mitra penting pelayanan kemanusiaan di Sumedang,” kata Fajar.
Menurutnya, Musyawarah Kerja PMI menjadi momentum penting untuk mengevaluasi capaian program sekaligus menyusun rencana kerja yang lebih responsif dan efektif ke depan.
“Saya yakin Muker PMI 2026 ini akan melahirkan keputusan konstruktif yang berdampak langsung bagi masyarakat,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua PMI Kabupaten Sumedang, Agus S Rasjidi menyebut kinerja PMI Sumedang menunjukkan tren positif dalam beberapa tahun terakhir. Salah satunya terlihat dari peningkatan produksi darah.
“Produksi darah meningkat dari 11.167 kantong pada 2024 menjadi 12.288 kantong di tahun 2025. Ini menunjukkan kepercayaan masyarakat terhadap PMI semakin tinggi,” ungkap Agus.
Tak hanya itu, Gerakan Solidaritas Kemanusiaan pada 2025 juga berhasil menghimpun dana sebesar Rp 910 juta, meningkat sekitar 22 persen dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai Rp 714 juta.
“Dana tersebut kami salurkan untuk berbagai kegiatan sosial, kebencanaan, serta bantuan kemanusiaan bagi masyarakat terdampak,” jelasnya.
Agus menambahkan, PMI Sumedang terus memperkuat sinergi dengan pemerintah daerah, sektor swasta, serta para pemangku kepentingan lainnya, termasuk melalui pengembangan unit usaha demi mendukung kemandirian organisasi.
Pada 2026 mendatang, PMI Sumedang juga akan menjalankan program renovasi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) sebagai proyek percontohan bagi warga terdampak bencana.
“PMI tidak bisa bekerja sendiri. Kolaborasi dan gotong royong semua pihak menjadi kunci agar pelayanan kemanusiaan benar-benar dirasakan masyarakat,” pungkasnya.
