Sumedang – Pelari asal Kabupaten Sumedang, Fajar Nursidiq (27), berhasil menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang Rinjani 100 Ultra yang digelar pada 1-3 Mei 2026. Fajar sukses menyelesaikan lintasan sejauh 100 kilometer melintasi kawasan Gunung Rinjani dan finis di posisi keempat dari total peserta yang mencapai garis akhir.
Ajang lari ultra marathon internasional tersebut diikuti sebanyak 115 peserta dari 38 negara. Namun, hanya 23 peserta yang mampu mencapai finish. Dari jumlah tersebut, 13 peserta merupakan pelari asal Indonesia dan Fajar menjadi pelari Indonesia pertama yang finis.
Warga Dusun Mekarjaya, Desa Cikadu, Kecamatan Situraja, Kabupaten Sumedang itu mencatat waktu tempuh 27 jam 18 menit. Selama perlombaan berlangsung, Fajar mengaku tidak tidur sama sekali dan hanya beristirahat sambil berjalan.
“Selama lomba saya tidak tidur sama sekali. Istirahat juga sambil jalan saja,” kata Fajar kepada wartawan, Kamis (7/5/2026).
Perlombaan dimulai pada pukul 00.00 WIB. Medan berat pegunungan dengan tanjakan dan turunan ekstrem menjadi tantangan tersendiri bagi para peserta. Meski begitu, Fajar tetap mampu menjaga ritme larinya hingga menyentuh garis finis.
“Kadang lari cepat, kadang santai, tergantung medan yang dilalui,” ujarnya.
Selama perlombaan, panitia menyediakan delapan titik water station (WS) yang menyediakan makanan dan minuman untuk peserta. Fajar memanfaatkan titik tersebut untuk mengisi ulang energi tanpa harus berhenti lama.
“Saya bawa air 1,5 liter. Pas di water station isi ulang air sambil makan semangka dan putih telur. Saat panitia isi ulang air, saya makan lalu lanjut lari lagi tanpa istirahat,” tuturnya.
Fajar mengungkapkan persiapan menuju ajang internasional tersebut dilakukan jauh hari sebelum perlombaan. Beberapa minggu menjelang event, ia rutin bangun pukul 03.00 WIB untuk berlatih lari menuju perbukitan terdekat dari kediamannya.
“Biasanya dari kosan di ketib lari ke Gunung Kacapi di Desa Kebonjati untuk latihan tanjakan,” katanya.
Selain itu, latihan rutin juga dilakukan setiap hari, mulai dari penguatan otot di rumah/kosan hingga latihan bersama komunitas di kawasan Pusat Pemerintahan Sumedang dan trek Cigugur.
Fajar diketahui aktif dalam komunitas Sumedang Runner. Sementara klub yang diikutinya yakni Grind Glory yang berbasis di Sumedang. Menurutnya, komunitas trail run di Sumedang juga rutin menggelar latihan bersama setiap Sabtu pagi.
“Kalau komunitas biasanya latihan rutin setiap Sabtu jam 6 pagi keliling tengah kota Sumedang, diikuti sekitar 10 sampai 20 orang,” ucapnya.
Sebelum mengikuti Rinjani 100 Ultra, Fajar juga telah beberapa kali mengikuti event trail run tingkat nasional dan internasional. Pada 2025 lalu, ia mengikuti ajang Bromo Tengger Semeru 100 Ultra kategori 100 kilometer dan berhasil finis di posisi kedua.
Kemudian pada 2023, Fajar mengikuti Malang Trail Runner Ultra kategori 35 kilometer dan finis di posisi ketiga. Prestasi serupa juga diraihnya dalam ajang Dieng Trail Run tahun 2024 dengan finis di posisi ketiga untuk kategori 25 kilometer.
Fajar mengaku mulai menekuni dunia trail run sejak 2021. Sebelumnya, ia hanya menyalurkan hobinya sebagai pelari jalan raya atau road runner dan beberapa kali mengikuti event lari umum.
“Sebelumnya lebih suka road run, lalu coba ikut trail run dan ternyata ketagihan,” katanya.
Ke depan, Fajar berharap di Kabupaten Sumedang dapat terbentuk Asosiasi Lari Trail Indonesia (ALTI) cabang Sumedang sebagai wadah resmi para pelari trail yang terdaftar di KONI.
“Saya berharap ada ALTI cabang Sumedang supaya para pelari trail punya wadah resmi dan pembinaan yang lebih baik,” pungkasnya.
Dalam waktu dekat, komunitas trail run di Sumedang juga akan menggelar sejumlah agenda olahraga lari. Di antaranya Fun Run di kawasan Pawon Sengon pada 20 Mei 2026 yang akan diikuti sekitar 50 peserta dari berbagai kota, serta Curio Night Run pada 30 Mei 2026 dengan target sekitar 200 peserta dari berbagai daerah.
